Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Saraf Terjepit

Reporter

Tempo.co

Editor

Nurhadi

Sabtu, 13 Agustus 2022 07:48 WIB

FPC. Saraf Terjepit. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta - Saraf terjepit atau radikulopati terjadi ketika jaringan di sekitar saraf, seperti tulang, otot, tendon, dan tulang rawan memberikan terlalu banyak tekanan pada suatu area saraf.

Penyebab Saraf Terjepit

Melansir Healthline, komplikasi saraf terjepit yang dapat terjadi adalah sindrom cauda equina. Gejalanya berupa lemah pada kedua tungkai, tidak dapat merasakan sentuhan, dan tidak bisa menahan atau mengontrol buang air. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab saraf terjepit atau HNP, di antaranya:

  • Faktor usia. Semakin bertambah usia, diskus vertebra (penghubung antara tulang) menjadi tidak fleksibel dan mudah robek.
  • Faktor genetik.
  • Cedera pada tulang belakang
  • Sering melakukan aktivitas yang memberatkan tulang belakang, misalnya mengangkat beban berat.
  • Berat badan berlebih. Hal ini menyebabkan beban tulang belakang bertambah.

Gejala Saraf Terjepit

Melansir laman Medicine Net, gejala yang paling umum dari saraf terjepit yakni sensasi kesemutan. Kesemutan bisa disertai dengan mati rasa. Tak jarang pula nyeri dapat menyertai sensasi kesemutan dan sering digambarkan seperti kejutan listrik. Beberapa penderita terkadang mengalami sensasi terbakar di daerah yang terkena.

Bila cedera terjadi di sekitar saraf tulang belakang, ujung saraf dapat tertekan atau terjepit, sehingga dapat timbul gejala nyeri, otot yang melemah dan hilangnya sensasi di bagian tubuh tertentu.

Gejala bergantung pada bagian saraf yang terjepit. Biasanya dapat berupa:

  • Nyeri pada saraf yang terjepit.
  • Rasa kesemutan atau mati rasa.
  • Refleks menurun.
  • Otot melemah.
  • Gangguan fungsi berkemih atau buang air besar
  • Gejala spesifik pada saraf yang terjepit di leher misalnya: Nyeri tajam di lengan, nyeri di bahu, baal (mati rasa) atau kesemutan di lengan, lengan lemas.
  • Nyeri dapat bertambah ketika menggerakkan leher atau memutar kepala.
  • Gejala spesifik pada saraf terjepit di punggung bawah misalnya nyeri tajam di punggung yang dapat menjalar ke kaki dan dapat memberat saat duduk atau batuk, tungkai bawah lemah, baal (mati rasa) di area tungkai bawah atau kaki.

Mengatasi Saraf Kejepit

Melansir dari WebMD, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk gejala berakhir dapat bervariasi dari orang ke orang. Perawatan bervariasi ini tergantung pada tingkat keparahan dan penyebab kompresi saraf.

Anda mungkin menemukan manfaat dari hanya mengistirahatkan area yang cedera dan dengan menghindari aktivitas apa pun yang cenderung memperburuk gejala Anda. Dalam banyak kasus, hanya itu yang perlu Anda lakukan.

Menurut laman Cleveland Clinic, pengobatan saraf terjepit bisa dilakukan menggunakan metode non-bedah dan bedah, tergantung dari tingkat keparahannya. Pengobatan non-bedah bisa dengan melakukan cara sebagai berikut.

1. Tingkatkan waktu istirahat

Dalam banyak kasus, istirahat cukup mampu menyembuhkan saraf terjepit secara alami dalam kurun waktu beberapa hari atau minggu.

2. Kompres dengan es atau air hangat

Mengompres dengan es maupun air hangat. Anda dapat mengompres area yang terasa sakit menggunakan air es maupun air hangat secara berulang untuk mengurangi rasa nyeri.

3. Obat pereda nyeri

Menggunakan obat pereda nyeri. Anda bisa menggunakan obat acetaminophen, antiinflamasi nonsteroid, ibuprofen maupun naproxen yang dijual bebas untuk mengurangi gejala nyeri atau sakit.

4. Terapi fisik

Perenggangan dan olahraga ringan dapat membantu mengurangi tekanan pada saraf dan membantu meredakan nyeri ringan. Anda bisa lakukan konsultasi dengan tarapis untuk menemukan metoda atau gerakan yang sesuai jenis saraf terjepit yang dialami.

Sementara itu, pengobatan medis dengan jalan bedah atau operasi bisa dilakukan saat perawatan non-bedah tidak mengurangi tekanan pada saraf, metodenya berupa:

  • Diskektomi dan fusi serviks anterior (ACDF). Ahli bedah akan mengangkat cakram atau taji tulang yang telah menekan saraf dari tulang belakang, kemudian menstabilkan tulang belakang melalui fusi. Dalam fusi, vertebrata bergabung, akhirnya membentuk satu tulang padat.
  • Penggantian cakram buatan (ADR). Bagian diskus yang terluka dikeluarkan dari tulang belakang dan diganti dengan bagian buatan, seperti lutut atau panggul.
  • Laminoforaminotomi serviks posterior. Ahli bedah menipiskan lamina untuk akses yang lebih baik ke area yang rusak, dan menghilangkan taji tulang dan jaringan yang menekan saraf.

Dilansir dari Mayoclinic, guna mencegah saraf terjepit, Anda bisa melakukan posisi yang benar, baik saat menyilangkan kaki maupun berbaring, dan tidak berada di posisi yang sama dalam waktu lama. Rutin melakukan latihan kekuatan dan fleksibilitas tubuh, membatasi aktivitas berulang, mendapatkan waktu istirahat yang cukup, dan mempertahankan berat badan ideal.

IDRIS BOUFAKAR

Baca juga: Apa Itu Saraf Terjepit dan Bagaimana Metode Penanganannya

Berita terkait

Inilah Kondisi Kesehatan yang Bisa Menyebabkan Kesemutan Berkelanjutan

3 hari lalu

Inilah Kondisi Kesehatan yang Bisa Menyebabkan Kesemutan Berkelanjutan

Kesemutan yang kronis mungkin merupakan tanda kerusakan saraf.

Baca Selengkapnya

Kenali Gejala Sindrom Kelelahan Kronis

5 hari lalu

Kenali Gejala Sindrom Kelelahan Kronis

Sindrom kelelahan kronis (CFS) adalah suatu kondisi di mana Anda terus-menerus merasa lelah, mengantuk, kurang termotivasi, dan kurang waspada.

Baca Selengkapnya

Masih Jalani Arus Balik Lebaran? Lakukan Power Nap untuk Bantu Kembalikan Fokus Menyetir

27 hari lalu

Masih Jalani Arus Balik Lebaran? Lakukan Power Nap untuk Bantu Kembalikan Fokus Menyetir

Power nap dapat membantu kembalikan fokus selama perjalanan panjang arus balik lebaran. Bagaimana caranya?

Baca Selengkapnya

Polri: Pemudik Istirahat Maksimal 30 Menit di Rest Area, tidak Rehat di Bahu Jalan Tol

39 hari lalu

Polri: Pemudik Istirahat Maksimal 30 Menit di Rest Area, tidak Rehat di Bahu Jalan Tol

Apabila rest area penuh, polisi menyarankan pemudik keluar menuju jalan arteri untuk beristirahat di beberapa titik.

Baca Selengkapnya

5 Kiat Mudik Bersama Anak

41 hari lalu

5 Kiat Mudik Bersama Anak

Perjalanan mudik bersama anak menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika menghadapi kebutuhan dan kenyamanan buah hati

Baca Selengkapnya

Ini Bedanya Rest Area Tipe A, B, dan C

42 hari lalu

Ini Bedanya Rest Area Tipe A, B, dan C

Jarak interval antar-TIP atau rest area yang diatur dalam Peraturan Menteri PUPR No 10 Tahun 2018 Tentang Tempat Istirahat dan Pelayanan pada Jalan Tol.

Baca Selengkapnya

Mudik Lebaran 2024 Terbesar Sepanjang Sejarah, Ini Pedoman Istirahat di Rest Area yang Harus Diperhatikan

42 hari lalu

Mudik Lebaran 2024 Terbesar Sepanjang Sejarah, Ini Pedoman Istirahat di Rest Area yang Harus Diperhatikan

BPJT mengimbau masyarakat beristirahat di rest area paling lama 30 menit selama arus mudik Lebaran 2024.

Baca Selengkapnya

Memahami Gangguan Saraf Papiledema, Penyebab dan Gejala

44 hari lalu

Memahami Gangguan Saraf Papiledema, Penyebab dan Gejala

Papiledema adalah pembengkakan kepala saraf kedua yang terjadi secara bersamaan antara dua mata. Cek gejalanya.

Baca Selengkapnya

5 Hal yang Harus Dipastikan Agar Mudik Aman bagi Ibu Hamil

53 hari lalu

5 Hal yang Harus Dipastikan Agar Mudik Aman bagi Ibu Hamil

Ketika ingin mudik lebaran, para ibu hamil harus memperhatikan hal-hal berikut agar kesehatan dan keselamatan bayi dapar terjamin.

Baca Selengkapnya

Mengenal Neuroferritinopathy, Penyakit Genetik yang Hanya Dimiliki Sekitar 100 Orang di Dunia

54 hari lalu

Mengenal Neuroferritinopathy, Penyakit Genetik yang Hanya Dimiliki Sekitar 100 Orang di Dunia

Neuroferritinopathy penyakit genetik yang hanya dimiliki sekitar 100 orang di dunia. Bagaimana gejala dan pengobatannya?

Baca Selengkapnya