Kamis, 20 September 2018

Ciri Orang Kecanduan Game Online

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kecanduan gadget. shutterstock.com

    Ilustrasi kecanduan gadget. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdapat tiga alasan seseorang memainkan permainan berbasis internet atau game online , antara lain bertujuan untuk bersenang-senang, menghilangkan stres, dan mengisi waktu luang.

    Organisasi Kesehatan Dunia atau world health organizations (WHO) menetapkan Kecanduan game atau game disorder ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD) sebagai penyakit gangguan mental untuk pertama kalinya. Dalam versi terbaru ICD-11, WHO menyebut bahwa kecanduan game merupakan disorders due to addictive behavior atau gangguan yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

    Baca: Kenali Faktor Penyebab Kecanduan Main Game

    Dijelaskan praktisi kesehatan jiwa, Kristiana Siste, dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menurut keterangan resmi yang diterima Bisnis dari Kementerian Kesehatan, Senin 9 Juli 2018, seseorang dikatakan kecanduan online/video gaming disorder bila memenuhi kriteria yang telah ditetapkan WHO, yaitu adanya perilaku berpola dengan karakteristik sebagai berikut:

    Ilustrasi anak main game. Shutterstock.com

    1. Ada ganguan kontrol untuk melakukan permainan tersebut (tidak dapat mengendalikan diri)

    2. Lebih memprioritaskan memainkan permainan tersebut dibandingkan dengan aktivitas yang seharusnya lebih diutamakan

    3. Intensitasnya semakin meningkat dan berkelanjutan meskipun ada konsekuensi atau dampak negatif yang dirasakan

    4. Perilaku berpola tersebut menyebabkan gangguan yang bermakna pada fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan dan area penting lainnya

    5. Pola tersebut sudah berlangsung selama 12 bulan.

    “Bermain game sampai menyebabkan distress dan disfungsi, barulah akan kita masukkan ke kategori gangguan mental”, kata Siste.

    Baca: Cina Larang Promosi Game Online di Media Sosial

    Online gaming ini, menurut  Siste, sangat digemari anak-anak, remaja bahkan dewasa muda seringkali menyuguhkan konten yang memacu adrenalin (tantangan). Selain itu, di dalam permainan semua pemain diberikan kesempatan yang setara atau sama untuk menang, sementara pada kehidupan nyata adanya label-label negatif pada seseorang.

    “Pada game juga reward nya cepat, kalau menang dapat poin, sementara kalau dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa demikian untuk sekedar dapat pujian”, Siste.

    Online gaming menjadi semakin memicu kerentanan terhadap kecanduan munculnya permainan dengan kategori Massive Multiplayer Online Role Playing Games (MMORPG).

    Baca: Kecanduan Game Online Dampaknya Gangguan dari Fisik sampai Otak

    Kategori ini yang paling sering dimainkan, karena pemain tidak bermain sendirian, mereka membuat relasi virtual untuk memainkan permainan tersebut. Para pemainnya dapat membentuk kepribadian yang diinginkan, mengontrol karakternya, melakukan pembagian tugas dan berinteraksi dengan pemain lain secara virtual. Permainan terus berlanjut meski pemain tidak sedang memainkannya. Apabila seorang pemain absen dalam waktu lama dari permainan tersebut, ia akan kehilangan pengaruh dan kekuatannya.

    “Ini yang membuat mereka sulit melepaskan. Seseorang yang bermain game online lebih dari 3 jam setiap hari rentan kecanduan. Bila seseorang sudah sampai tahap kecanduan biasanya menunjukkan gejala putus perilaku, yakni apabila dihentikan kesenangannya (bermain game) maka akan timbul energi negatif, mulai dari kesal, marah-marah, mengancam orang lain, bahkan menyakiti diri sendiri,” kata Siste.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.