4 Faktor yang Perburuk Kondisi Jemaah Haji dengan Sakit Jantung

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menunjukkan kode QR pada gelang haji di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 18 Juli 2018. Kode QR ini berisi rekam data lengkap identitas jemaah. ANTARA/Zabur Karuru

    Pekerja menunjukkan kode QR pada gelang haji di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 18 Juli 2018. Kode QR ini berisi rekam data lengkap identitas jemaah. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, JakartaJemaah haji risiko tinggi dengan penyakit jantung harus mengonsumsi obat yang dibawa dari Indonesia. Bila tidak bawa, sampaikan ke dokter kloternya. Dokter kloter nanti akan berkoordinasi dengan KKHI (Klinik Kesehatan Haji Indonesia).

    Baca: Duta Besar Osama: Fasilitas Haji Makkah Road Menelan Biaya Besar

    Gibran Fauzi Harmani, salah satu spesialis penyakit jantung yang bertugas di KKHI Mekah mengatakan jemaah haji yang wafat di tanah suci, 50 persennya didominasi oleh penyakit jantung.“Pada saat berangkat, pasien sudah memiliki kondisi penyakit kardiovaskular sebagai risiko yang tinggi. Namun terkontrol dan stabil. Kestabilan inilah yang harus dijaga,” kata Gibran.

    Untuk itu, jemaah diminta tetap mengonsumsi obat-obatan yang sudah diberikan oleh dokter di Indonesia. “Obat merupakan hal penting dalam pengendalian penyakit jantung,” katanya.

    Penyakit kardiovaskular bisa dikontrol dengan obat dan menjaga pola hidup sehat. Selain itu, jauhi pencetusnya untuk menghindari perburukan. Ada 4 faktor yang memperburuk kondisi para jemaah haji yang sudah menderita penyakit jantung.

    Pertama, pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan yang diresepkan di Indonesia dengan menghentikan sendiri konsumsi obat tanpa konsultasi ke dokter. Biasanya karena alasan takut sering buang air kecil sehingga mengganggu ibadah. “Pasien jantung diberikan obat untuk meningkatkan kencing. Karena takut banyak kencing pada saat ibadah, pasien menghentikan sendiri tanpa konsultasi ke dokter,” kata Gibran.

    Ilustrasi alat pacu jantung. shutterstock.com

    Selain itu, ada juga perbedaan kegiatan pasien yang melakukan aktivitas di luar pondokan dengan aktivitas di dalam pondokan. “Apabila pasien keluar pondokan maka kita tidak melakukan pembatasan cairan untuk mencegah dehidrasi pasien dengan kardiovaskular, kecuali sudah timbul keluhan seperti sesak dan kaki bengkak. Namun semua obat-obatan harus terus diminum,” katanya.

    Baca: Kedutaan Arab Saudi Berangkatkan Jemaah Haji Undangan Raja Salman

    Kedua, jemaah tidak membawa obat-obatan yang selama ini rutin diminum di Indonesia. Apabila pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan tersebut ditambah dengan faktor stres, faktor kelelahan, dan faktor fisik maka akan memicu tekanan darah yang lebih tinggi, gula darah yang tidak terkontrol, juga penumpukan cairan yang menyebabkan perburukan. “Bila tidak bawa obat, sampaikan ke dokter kloter. Nanti akan disiapkan dari dokter sektor ataupun KKHI,” kata Gibran.

    Ketiga, jemaah haji dengan risiko tinggi penyakit jantung memaksakan untuk melakukan aktivitas fisik melampaui batasan yang dianjurkan dokter, baik oleh karena ibadah maupun karena non ibadah. Gibran menyarankan agar para pasien menyadari bahwa dirinya memiliki keterbatasan fisik.  Sehingga diharapkan untuk memprioritaskan aktivitas yang wajib dan tidak memaksakan diri untuk melakukan aktivitas yang tidak wajib atau bahkan tidak berhubungan dengan ibadah. “Seperti tidak melakukan umroh sunnah secara berulang ulang, memaksakan untuk arbain, bahkan bila perlu Tawaf dan Sai bisa menggunakan kursi roda,” kata Gibran.

    Aktivitas non ibadah juga sering dilanggar oleh jemaah dengan penyakit jantung. Seperti pada saat pasien menunggu lift terlalu lama, maka pasien memaksakan diri naik tangga. "Apabila jemaah sudah hampir merasakan sesak napas atau tersengal-sengal saat berjalan/beraktivitas maka sebaiknya segera istirahat dan menghentikan aktivitas terlebih dahulu," katanya.

    Keempat, faktor lingkungan dan iklim bisa menjadi pencetus perburukan. Suhu di Indonesia selalu berkisar antara 20 sampai 38 derajat celcius. Sedangkan suhu di Saudi lebih tinggi, bisa mencapai  46 derajat Celcius. Kelembaban di Indonesia relatif tinggi yaitu 70 persen sedangkan di Arab Saudi berkisar 0-20 persen. Hal ini menyebabkan jemaah Indonesia di Arab Saudi rentan mengalami masalah saluran pernafasan. Berdasarkan para pakar, ketika kelembaban 0 persen maka yang terjadi adalah kerusakan sel-sel lapisan di pernapasan sehingga memudahkan terjadinya batuk dan infeksi saluran pernapasan.

    Baca: Arab Saudi Siapkan Fasilitas Pengasuhan Anak-anak Jemaah Haji

    Apabila pasien jantung ini mengalami penyakit saluran pernapasan, maka kondisi kesehatannya akan semakin buruk. Untuk mengantisipasi perubahan iklim yang ekstrim ini, jemaah haji dianjurkan menggunakan alat perlindungan diri, yaitu masker, payung, kacamata hitam, dan semprotan air ketika keluar dari pondokan.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Politik Dinasti dalam Partai Peserta Pemilihan Legislatif 2019

    Kehadiran politik dinasti mewarnai penyelenggaraan pemilihan legislatif 2019. Sejumlah istri, anak, hingga kerabat kepala daerah.