Heboh Crosshijaber, Seperti Apa Mereka? Simak Kata Psikolog

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua warga Muslim menutupi wajah mereka saat menggelar aksi protes pelarangan cadar di Vienna, Austria, 1 Oktober 2017. Bagi warga yang melanggar peraturan penggunaan penutup wajah di tempat umum akan dikenakan sanksi sekitar Rp 2,3 juta. REUTERS/Leonhard Foeger

    Dua warga Muslim menutupi wajah mereka saat menggelar aksi protes pelarangan cadar di Vienna, Austria, 1 Oktober 2017. Bagi warga yang melanggar peraturan penggunaan penutup wajah di tempat umum akan dikenakan sanksi sekitar Rp 2,3 juta. REUTERS/Leonhard Foeger

    TEMPO.CO, Jakarta - Belakangan, media sosial dihebohkan dengan adanya komunitas crosshijaber, yakni kumpulan pria yang berpenampilan seperti perempuan. Mereka mengenakan hijab bergaya syar'i lengkap dengan cadar.

    Para crosshijaber tersebut bahkan memiliki komunitas di sejumlah media sosial seperti Facebook dan Instagram. Bahkan, mereka seolah ingin mengukuhkan keberadaannya dengan membuat tanda tagar crosshijaber meski kini banyak unggahan yang dihapus.

    Dari sejumlah tangkapan layar Instastory, terpampang wajah pria yang mengenakan gamis, hijab panjang, dan ada yang memakai cadar. Diungkapkan bahwa beberapa dari crosshijaber tersebut bahkan berani masuk ke tempat yang dilarang bagi pria seperti tempat wudu, area tempat salat wanita di masjid, bahkan toilet.

    Jadi, apa sebenarnya crosshijaber itu? Istilah crosshijaber diambil dari kata crossdressing, yakni aksi mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelamin bawaan dari lahir.

    "Perilaku ini kalau dalam istilah medis dikenal dengan sebutan transvestisisme, yakni perilaku yang sering kali dianggap sebagai suatu penyimpangan yang merupakan gangguan kejiwaan karena adanya keinginan dari seorang laki-laki atau perempuan yang mengenakan pakaian yang biasa dikenakan oleh jenis kelamin sebaliknya," kata psikolog klinis dari RSUD Wangaya, Denpasar, Bali, Nena Mawar Sari.

    Biasanya, perilaku transvestisisme berawal dari riwayat seseorang merasa tidak nyaman dengan identitas seksual yang dia miliki akibat adanya trauma di masa lalu.

    "Bisa jadi dia dulu mengalami pelecehan seksual sehingga merasa kalau memakai baju sebaliknya akan merasa nyaman," jelasnya.

    Ilustrasi cadar. RITZAU SCANPIX/Martin Sylvest via REUTERS

    Istilah crossdressing tak sama dengan kondisi transgender. Seseorang yang melakukan crossdressing disebut Nena bisa saja memiliki tujuan beragam, mulai dari penyamaran untuk melakukan tindakan kriminal, hiburan atau ekspresi diri hingga mendapat kepuasan seksual.

    "Transvestisisme orientasi seksualnya sama dengan jenis kelamin yang dia miliki. Kalau transgender orientasi seksual dia berbeda dari jenis kelaminnya, dan biasanya benar-benar tak mau kembali ke jenis kelamin yang dulu sampai dia melakukan transformasi, misalnya dengan terapi hormon atau operasi kelamin," katanya.

    Jika bertemu dengan orang dengan perilaku transvestisisme, Nena menyarankan agar tidak panik karena bisa saja orang yang mengenakan pakaian layaknya wanita atau pria tersebut memiliki niat jahat yang bisa membahayakan.

    "Kita tidak pernah tahu orang itu niatnya apa, apakah gangguan jiwa murni atau kenapa. Kalau bertemu jangan panik. Tenang saja. Segera pergi dari lokasi itu pelan-pelan dan langsung lapor pada yang berwajib,” sarannya.

    “Masalahnya, kita tidak pernah tahu apa motif mereka. Bisa saja mereka punya niat kriminal, kalau kita panik teriak-teriak, dia bisa kalap, yang tadinya cuma mau ambil dompet bisa saja membacok atau apa. Atau orang itu adalah eksibisionis, di mana kalau kita bereaksi dengan perilakunya, dia justru akan terpuaskan," kata Nena.

    Sementara, jika transvestisisme masih di ranah yang tepat, misalnya dalam dunia fashion, di mana dikenal dengan jenis fashion androginus, maka hal tersebut masih bisa diterima. Salah satu selebritas internasional yang pernah kedapatan beberapa kali melakukan crossdressing adalah anggota grup vokal One Direction, Harry Styles. Dia pernah mengenakan jumpsuit wanita berwarna hitam yang dihiasi renda serta frills pada ajang Met Gala 2019. Styles melengkapi penampilannya kala itu dengan giwang mutiara pada telinga kanannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.