Kanker Limfoma Hodgkin Bisa Kembali Menyerang, Pahami Pemicunya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kanker. shutterstock.com

    Ilustrasi Kanker. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kanker limfoma hodgkin adalah masalah kesehatan yang menyerang kelenjar getah bening di leher dan kepala. Meski memiliki angka kesembuhan yang tinggi, namun para ahli mengatakan risiko penyakit untuk kembali menyerang tetap ada.

    “Namanya kanker itu pasti tidak ada kemungkinan dari remisi untuk kembali. Prevalensi risikonya sekitar 10-30 persen kambuh,” ungkap Ketua Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) dan Persatuan Hematologi Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), Tubagus Djumhana Atmakusuma.

    Berbagai pemicunya pun dijelaskan oleh Djumhana. Pertama, ia mengatakan kanker limfoma hodgkin bisa kembali lagi jika seseorang banyak melakukan aktivitas yang dekat dengan radiasi. Djumhana menjelaskan paparan radiasi pengion dapat menimbulkan ionisasi dan eksitasi pada tubuh.

    “Kalau terpapar ini, maka risiko kanker limfoma hodgkin untuk kembali lagi tinggi. Jadi, sebaiknya hindari permukiman atau daerah kantor dengan tegangan radiasi tinggi,” jelasnya.

    Pemicu lain bisa berupa paparan virus HIV. Djumhana mengatakan bahwa virus tersebut bisa menyerang sel darah putih sehingga merusak sistem imunitas tubuh. Akibatnya, berbagai macam penyakit bisa menyerang tubuh, tak terkecuali kanker limfoma hodgkin.

    “Setelah dinyatakan remisi, sebaiknya Anda berhati-hati dengan tidak bertukar barang pribadi hingga seks bebas untuk menurunkan risiko HIV,” katanya.

    Mengonsumsi makanan yang diawetkan juga bisa memicu kembalinya kanker limfoma hodgkin. Djumhana mengatakan penyebabnya virus Eipstein Barr (EBV) yang biasanya hinggap pada makanan yang diawetkan.

    “Saya sarankan, pilih makanan yang segar dan baru dimasak. Jangan pilih yang ada pengawet,” tegasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.