Mentimun Bisa Turunkan Tekanan Darah Tinggi? Simak Kata Dokter

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi mentimun (pixabay.com)

    ilustrasi mentimun (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit degeneratif yang tak boleh disepelekan. Jika tidak dikendalikan dengan baik, hipertensi dapat menyebabkan kerusakan organ dan berujung pada kematian.

    Salah satu cara untuk menjaga tekanan darah agar tak melonjak dan banyak dipercayai oleh masyarakat awam adalah dengan mengonsumsi mentimun. Namun, sebenarnya efektifkah mentimun untuk pasien hipertensi? Dokter spesialis saraf Amanda Tiksnadi pun memberikan penjelasan.

    Amanda mengatakan mentimun memang dikenal tinggi kalium. Kalium tersebut diyakini bisa mempertahankan kadar sodium dalam tubuh.

    “Ketika kadar sodium dipertahankan, dia bisa mencegah aterosklerosis yang kemudian mempengaruhi tekanan darah,” jelasnya dalam acara Media Gathering di Jakarta pada Kamis, 20 Februari 2020.

    Meski begitu, panitia 14th Scientific Meeting InaSH itu mengatakan hingga kini belum ada takaran tepat untuk penyajian dan penggunaan mentimun. Sedangkan jika mentimun dikonsumsi terlalu sedikit, ia tidak akan memberikan efek apapun.

    “Sebaliknya kalau kita minum terlalu banyak, bagi tubuh juga pasti tidak baik,” ujarnya.

    Amanda juga menambahkan mentimun memiliki biji. Sayangnya, biji mentimun yang dikonsumsi terlalu banyak itu juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap asam urat. Untuk itu, Amanda lebih menyarankan masyarakat memilih produk yang memang sudah pasti dan teruji klinis dalam mengontrol hipertensi.

    “Banyak kita bisa temukan di apotek atau rumah sakit yang dosisnya memang sudah disesuaikan dan aman,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.