Psikolog Ungkap Kapan Cinta Layak Diperjuangkan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan. Unsplash/

    Ilustrasi pasangan. Unsplash/

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada beberapa perbedaan di antara pasangan yang kemudian berujung pertentangan hubungan dari orang-orang sekitar. Pada satu titik, Anda mungkin bertanya-tanya apakah cinta dan hubungan pantas diperjuangkan.

    “Tergantung dinamika pasangan ini. Saya tidak bisa bilang ada satu checklist. Tetapi, menurut saya bisa diperjuangkan ketika dua-duanya sama-sama yakin. Saya tahu apa yang saya butuhkan, mau saya tuju, apa yang penting untuk saya,” ujar psikolog di bidang hubungan cinta, Pingkan Rumondor.

    Hal sama juga harus dirasakan pasangan. Jika dia tak merasakan hal sama, Pingkan tak menyarankan untuk meneruskan hubungan karena sangat berisiko.

    “Tetapi, kalau salah satu merasa bisa diperjuangkan dan satunya tidak, sangat berisiko. Sebaiknya, ketika dua-duanya berkomitmen untuk mau menjalani hubungan ini,” tuturnya.

    Sebaiknya berdiskusi dulu dengan pasangan. Jika pada akhirnya Anda dan pasanganmerasa punya kebutuhan yang sama, saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan, punya visi yang sama, ada usaha, ada komitmen, maka hubungan pun bisa diperjuangkan.

    Pingkan menilai, saat ini ada perilaku sliding daripada memutuskan di antara pasangan-pasangan muda. Mereka cenderung patuh pada batas-batas yang ditentukan masyarakat, tanpa aktif mengekspresikan dan secara sadar memutuskan pilihannya sendiri.

    Hasil penelitian menunjukkan pria dan wanita akan lebih mampu merasakan hubungan yang memberi penghargaan saat mereka berani memutuskan dan mengungkapkan hal-hal yang dianggap penting dalam hubungan dibandingkan hanya mengikuti arus.

    “Salah satu tahapan yang paling penting adalah memahami apa yang ingin kita rasakan dan dapatkan dari sebuah hubungan sehingga dapat lebih percaya diri menyuarakan isi hati kepada pasangan dan akhirnya mencintai orang yang sesuai dengan nilai-nilai kita,” kata Pingkan.

    Namun, sayangnya sebuah survei dari tim global Closeup yang melibatkan 514 orang anak muda di Indonesia memperlihatkan hanya satu dari dua anak muda atau 50 persen yang percaya mereka bebas menentukan pilihan bersama orang yang dicintai tanpa memandang latar belakang.

    Head of Marketing Oral Care PT Unilever Indonesia, Tbk., Fiona Anjani Foebe, mengungkapkan survei itu menunjukkan pasangan-pasangan yang menjalani hubungan tidak konvensional, ada perbedaan seperti usia, latar belakang suku bangsa, ras, dan sebagainya, cenderung menghadapi tekanan sangat kuat sehingga kehilangan suara mereka.

    “Sebanyak 43 persen dari mereka akan merahasiakan hubungan karena tidak disetujui orang tua, 31 persen merasa bersalah terhadap mereka, 58 persen merasa didiskriminasi, dihakimi atau dipermalukan, dan 44 persen bahkan terpaksa mengakhiri hubungan karena tidak direstui orang tua ataupun masyarakat,” ungkap Fiona.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.