Cara Jitu Mengajari Anak Rutin Mencuci Tangan Sejak Dini

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak mencuci tangan sebelum menaiki KM Dorolonda yang akan diberangkatkan dari Terminal Penumpang Tanjung Priok, Jakarta, Ahad, 15 November 2020.Terhitung 1 Desember 2020, tiket kapal PELNI sudah bisa dibeli kembali melalui website dan aplikasi. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Seorang anak mencuci tangan sebelum menaiki KM Dorolonda yang akan diberangkatkan dari Terminal Penumpang Tanjung Priok, Jakarta, Ahad, 15 November 2020.Terhitung 1 Desember 2020, tiket kapal PELNI sudah bisa dibeli kembali melalui website dan aplikasi. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Awal 2020, seluruh dunia geger oleh virus jenis baru Novel Coronavirus, pandemi ini membuat semua belajar kembali cara pencegahan penularan penyakit yaitu dengan tata cara mencuci tangan yang baik dan benar, yang kemudian masuk ke dalam protokol pencegahan penyebaran Virus Covid -19 selain dengan menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

    Ada baiknya jika mengajarkan kebiasaan cuci tangan dilakukan sejak dini pada anak-anak, supaya terbentuk  kebiasan sehat. Cara mendidik anak seperti ini cukup efektif jika dilakukan secara konsisten dan selalu dipantau perkembangannya. Sebab anak-anak selalu belajar dari orang terdekat dan lingkungan sosialnya.

    Peran aktif orang tua bisa ditunjukkan kepada anaknya seperti membimbing, memberi pengertian, mengingatkan dan menyediakan fasilitas. Tidak luput pula aktivitas yang di contohkan oleh orang tua juga signifikan berpengaruh terhadap cara pandang anak dan berperilaku sebab contoh yang baik dilakukan orang tua berulang-ulang mendapatkan perhatian si anak.

    Baca: Tips Mencuci Tangan yang Benar Lebih Asyik Sambil Menyanyikan 5 Lagu ini

    ADVERTISEMENT

    Membiasakan anak dengan memantau secara rutin aktivitas  seperti cuci tangan selama 21 hari akan mengubah satu hal yang tidak biasa menjadi biasa, dan menjadi satu kebutuhan. Ini merupakan sebuah studi penelitian yang dilakukan oleh Unilever dengan London School Hygiene and Tropical Medicine dikutip dari laman Tempo.co. Berikut ini hal-hal yang bisa dilakukan untuk mendidik anak untuk rutin mencuci tangan.

    Hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah menanamkan pemikiran bahwa cuci tangan bukan sekadar membasuh telapak tangan dengan air, tapi juga bermanfaat meluruhkan  kuman bakteri yang dibawa melalui sentuhan guna mencegah penularan penyakit.

    Data dari World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa mencuci tangan menggunakan sabun 50 persen efektif mencegah diare, selain itu bermanfaat mencegah terjangkit dari penyakit kolera, cacingan, flu, Infeksi Saluran Pernapasan (Ispa). Hal kedua gunakan media ajar yang menarik, biasanya dengan video edukasi visual ampuh menarik perhatian anak.

    Selanjutnya memandu dan mendampingi anak ketika melakukan aktivitas mencuci tangan, sembari bernyanyi lagu-lagu cerita yang berisi ajakan mencuci tangan. Cara selanjutnya buatlah misi bersama anak untuk menyelesaikan tantang mencuci tangan secara rutin, jika anak berhasil, lakukan apresiasi atas usahanya anak.

    Sesuai dengan  Sosiologi, terdapat empat tahapan anak-anak belajar dan memahamai lingkungan, yaitu pertama, tahap persiapan (Prepatori Stage) anak pada tahap ini dalam proses meniru tapi tidak sempurna dan belum mengerti, anak dalam hal ini merupakan individu yang yang dipersiapkan dengan bekal norma-norma dan nilai-nilai yang menjadi pendoman bergaul dalam masyarakat oleh lingkungan terdekat (keluarga).

    Kedua, tahap meniru (Play Stage) tahap ini merupakan bagian di mana proses peniruan yang dilakukan oleh anak hampir masuk ke dalam proses yang sempurna. Mulai pahamnya anak tentang dirinya sendiri,, siapa kakaknya, apa yang dia bisa berikan kepada ibunya. Maka dengan memahami tahap belajar anak, pendekatan pun kan semakin mudah untuk mengajak rutin cuci tangan.

    Ketiga, tahap siap bertindak (Game Stage) anak menyadari peniruan yang dilakukannya mulai berkurang, dan mulai menjadi diri sendiri (memainkan perannya sendiri) menempatkan diri dengan posisi orang lain pun meningkat, sehingga di masa ini anak mulai berhubungan dengan teman sebaya.

    Keempat, tahap penerimaan norma kolektif (Generalizing Stage) yaitu anak sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Jika sudah demikian, mengajari anak mencuci tangan secara rutin tak lagi sulit.

    TIKA AYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.