Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Sains Persembahan Si Jenius dari Florence

Leonardo da Vinci.
Leonardo da Vinci.
Iklan
TEMPO Interaktif, Di sebuah rak toko buku, sebuah kitab terimpit di antara jajaran puluhan judul. Tempatnya yang di ketinggian membuat orang malas mendongakkan kepala. Namun, di situ justru terselip sebuah karya penting Fritjof Capra, fisikawan yang menguraikan dengan penuh gairah, hidup, dan karya seorang tokoh Renaissance yang dikenang hingga berabad kemudian: Leonardo da Vinci. Andai tak jeli melihatnya, karya terbaru Capra itu akan luput dari keterbacaan.

Membaca Capra adalah tak ubahnya menempuh perjalanan melewati horizon yang luas, sekaligus menukik ke kedalaman palung pengetahuan. Sebagaimana karya-karyanya terdahulu, The Tao of Physics yang mengasyikkan dan The Turning Point yang mengguncang, The Science of Leonardo ini ditulis dengan gairah pengembaraan. Karya ini bukan hanya memperlihatkan kehebatan Leonardo da Vinci, tapi juga kepiawaian penulisnya dalam mengungkapkan sosok sang tokoh dalam sebuah potret yang koheren.

Orang mungkin lebih mengenal Leonardo sebagai pelukis dan siapa yang tak tahu Monalisa? Namun lelaki ini punya sisi lain yang jarang ditulis. Walaupun ia meninggalkan buku-buku catatan tebal dan penuh deskripsi rinci tentang eksperimen-eksperimennya, gambar-gambar cemerlang, dan analisis mendalam atas temuan-temuannya, hanya ada sedikit buku tentang sains Leonardo. Sayangnya pula, yang sedikit itu memandang karya sains Leonardo melalui lensa Newtonian.

Capra, yang memperlihatkan dengan gamblang bahwa warisan cara pandang Newton, Descartes, dan Bacon telah menyebabkan kerusakan di muka bumi ini, menampilkan Leonardo sebagai sosok yang berbeda. Hidup kira-kira satu abad sebelum para raksasa itu, Leonardo menawarkan pandangan dunia yang lebih holistik. Tak seperti Descartes, Leonardo tidak memandang tubuh sebagai mesin, walaupun ia seorang insinyur gemilang yang telah merancang mesin-mesin dan peralatan mekanis yang tak terhitung jumlahnya. 

Juga tak seperti yang diserukan oleh Bacon, Leonardo tidak menguasai sains dan sistem gerak untuk mendominasi alam. Bahkan sebelum Galileo dan Bacon, Leonardo membangun sebuah pendekatan empiris baru terhadap sains. Ia melakukan observasi sistematis atas alam semesta, melakukan pengukuran cermat dan berulang-ulang, membuat formulasi model, dan berupaya membuat generalisasi matematis--inilah ciri-ciri dari apa yang kini dikenal sebagai metode ilmiah. 

Sejak entri-entri awal, ketika ia memulai penyelidikan ilmiahnya, hingga hari-hari terakhirnya. Ia mengisi buku catatannya dengan deklarasi tentang nilai penting pengamatan metodis dan eksperimentasi. Ia tak pernah lelah dalam menekankan pentingnya sperienza, pengalaman langsung dengan gejala alam. Ini sebuah pemikiran revolusioner pada zamannya, ketika para ilmuwan masa itu bersikap tidak kritis terhadap teks-teks klasik dari Yunani. 

"Bagiku, sains-sains yang tidak dilahirkan dari pengalaman, ibu dari semua kepastian, adalah sains penuh kesalahan dan sia-sia," tulis Leonardo. "Artinya, sains yang di awal, pertengahan, atau akhirnya tidak melalui kelima indra."

Sebagai ilmuwan dan insinyur, Leonardo memiliki keunikan yang tiada tara. Kehebatan visualnya yang selalu dipujikan telah membedakannya dari ilmuwan dan insinyur yang lain. Studinya mengenai anatomi lengan memperlihatkan gambar tangan yang detail, halus, dan dilengkapi dengan catatan-catatan mengenai fungsi-fungsi bagian lengan itu. Begitu pun ketika ia mempelajari tentang pembuluh nadi.

Kekuatannya dalam "memotret dengan mata" menyediakan kelebihan baginya saat melakukan studi tentang gerak air dan burung-burung. Ia menggambarkan dengan cermat pusaran air di seputar papan berbentuk segi empat. Dari kacamata sains modern, studi ini tak ubahnya studi tentang mekanika fluida. Dari studinya tentang gerak terbang burung-burung, Leonardo membayangkan hadirnya sebuah kapal terbang buatan manusia.

Pendekatan Leonardo terhadap pengetahuan ilmiah bersifat visual, pendekatan seorang pelukis. "Lukisan," demikian pernyataannya, "merangkum dalam dirinya seluruh wujud alam semesta." Bagi Leonardo, lukisan adalah seni sekaligus sains--sebuah sains tentang bentuk-bentuk alamiah, tentang kualitas, yang cukup berbeda dari sains mekanistis yang muncul 200 tahun kemudian.

Capra menilai Leonardo, dengan pemikiran sistemiknya, yang memahami suatu fenomena dalam hubungannya dengan fenomena lain, sebagai pendahulu para pemikir dari masa-masa yang kemudian. Dari sudut pandang sains abad ke-20, menurut Capra, Leonardo da Vinci merupakan pelopor dalam silsilah ilmuwan dan filsuf yang fokus sentralnya adalah hakikat bentuk organik. 

Di sana ada nama-nama Immanuel Kant, Alexander von Humboldt, John Wolfgang von Goethe (abad ke-18), Georges Cuvier, Charles Darwin, dan Thompson D'Archy (abad ke-19), Alexander Bogdanov, Ludwig von Bertalanffy, dan Vladimir Vernadsky (awal abad ke-20), serta Gregory Bateson, Ilya Prigogine, dan Humberto Maturana (akhir abad ke-20).

Leonardo menyadari dengan jernih, dan mendokumentasikan dalam gambar-gambar cemerlang, bahwa anatomi hewan dan manusia mengandung fungsi-fungsi mekanis tanpa ia harus terjebak dalam pemikiran alam yang mekanistis atau reduksionis. Sintesis seni dan sains Leonardo mengandung kesadaran mendalam tentang ekologi dan pemikiran tentang sistem-sistem. Ia berbicara dengan jengkel perihal mereka, kaum reduksionis pada masanya. 

Lewat studinya yang cermat, Capra bermaksud menunjukkan bahwa dengan bangkitnya pemikiran sistemik dan penekanannya pada jaringan, kompleksitas, dan pola-pola organisasi, kita dapat lebih mengapresiasi kekuatan sains Leonardo dan relevansinya dengan dunia modern kita. Capra telah mencapai tujuannya. Dan ia memperkaya kisah pria flamboyan dari Florence ini dengan balutan pertikaian kekuasaan, intrik-intrik istana, persaingan di kalangan seniman dan ilmuwan, serta menyajikannya dengan jernih dan memukau. 

Dian Basuki, peminat isu-isu sains, tinggal di Bandung.
 
 
Judul Buku: Sains Leonardo
Penulis: Fritjof Capra
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 2010
Tebal: xx + 384 halaman





Iklan




Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.




Video Pilihan


4 Tahapan Membuat ISBN, Penuhi 8 Syarat ini

11 Mei 2022

Ilustrasi wanita sedang membaca buku. Unsplash/Streetwindy
4 Tahapan Membuat ISBN, Penuhi 8 Syarat ini

Begini cara mengajukan permohonan ISBN dengan memenuhi 8 syarat teknis. Apa saja?


Lowongan Kerja Balai Pustaka bagi Lulusan D3 dan S1, Berikut Kualifikasinya

9 September 2021

Gedung Balai Pustaka, Jakarta. [TEMPO/ Hidayat SG
Lowongan Kerja Balai Pustaka bagi Lulusan D3 dan S1, Berikut Kualifikasinya

PT Balai Pustaka membuka lowongan kerja bagi lulusan D3 dan S1.


Sandiaga Uno Dukung Penerbitan Buku Wisata Halal Indonesia

2 Juli 2021

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 14 Juni 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis
Sandiaga Uno Dukung Penerbitan Buku Wisata Halal Indonesia

Sejumlah daerah di Indonesia juga telah menerapkan dan mengembangkan konsep wisata halal.


Cara Dapat Uang Dari Wattpad, Jangan Lewatkan 6 Tips ini

29 Mei 2021

Wattpad. support.wattpad.com
Cara Dapat Uang Dari Wattpad, Jangan Lewatkan 6 Tips ini

Di era serba digital, cara dapat uang dari Wattpad pun bisa dilakukan oleh mereka yang suka menulis. Simak tipsnya.


Program Nulis dari Rumah, Stimulus untuk Penulis dan Penerbit

6 Oktober 2020

Ilustrasi perempuan menulis. shutterstock.com
Program Nulis dari Rumah, Stimulus untuk Penulis dan Penerbit

Pemerintah memberikan stimulus untuk penulis dan penerbit melalui program "Nulis dari Rumah".


London Book Fair, Penerbit Asing Borong Hak Terbit Buku Indonesia

13 Maret 2019

12 Rights Buku Indonesia Terjual di London Book Fair Hari Pertama. Tempo/Erwin Zachri
London Book Fair, Penerbit Asing Borong Hak Terbit Buku Indonesia

Pada hari pertama pameran buku London Book Fair (LBF) 2019, Indonesia sudah membukukan penjualan hak penerbitan untuk 12 judul buku.


Buku Ucok Homicide Soal Hip Hop Dalam 1 Dekade Beredar

30 Agustus 2018

Elevation Books mengeluarkan buku Ucok Homicide, Flip Da Skrip: Kumpulan Catatan Rap Nerd dalam Satu Dekade, di pengujung Agustus. Istimewa
Buku Ucok Homicide Soal Hip Hop Dalam 1 Dekade Beredar

Penerbit buku independen Elevation Books belum kapok membidani kumpulan tulisan Herry Sutresna aka Ucok Homicide.


Sri Mulyani Cermati 3 Masalah Terkait Pajak Buku

11 September 2017

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. TEMPO/Dhemas Reviyanto
Sri Mulyani Cermati 3 Masalah Terkait Pajak Buku

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berjanji mengakomodasi keluhan para penulis buku yang berkeberatan dengan tarif pajak saat ini.


Soal Pajak Buku Tere Liye, Ini Kata Najwa Shihab

8 September 2017

Najwa Shihab, dalam akun twittwernya, menulis bahwa Agustus ini merupakan bulan terakhir Najwa Shihab dan talkshow Mata Najwa di Metro TV. TEMPO/Frannoto
Soal Pajak Buku Tere Liye, Ini Kata Najwa Shihab

Najwa Shihab berharap hal yang disampaikan Tere Liye soal pajak buku bisa jadi pemicu untuk perbaikan dunia berbukuan di Indonesia


Pungutan Pajak Tinggi, Tere Liye Hentikan Penerbitan Buku

7 September 2017

Tere Liye (twitter.com)
Pungutan Pajak Tinggi, Tere Liye Hentikan Penerbitan Buku

Kritisi pembayaran pajak tinggi, Tere Liye putuskan
menghentikan penerbitan buku-bukunya