Rabu, 17 Oktober 2018

Hari Batik Nasional, Intip Batik Warisan Para Wali Songo

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Batik Cirebon. TEMPO/Panca Syurkani

    Batik Cirebon. TEMPO/Panca Syurkani

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari Batik Nasional diperingati setiap tanggal 2 Oktober 2018. Berbagai instansi biasanya menginstruksikan karyawannya untuk menggunakan batik. Tentu salah satunya sebagai bentuk apresiasi untuk menggunakan batik. 

    Baca: Hari Batik Nasional Dirayakan Selama 4 Hari di Thamrin City

    Batik memang sudah banyak digunakan masyarakat Indonesia. Ternyata tokoh tokoh penyebar agama Islam, Wali Songo juga ikut mewarisi batik kepada masyarakat sekitar. Hal ini pernah diulas Koran Tempo pada Mei 2018 ini:

    1. Sunan Kalijaga
    Sunan Kalijaga dikenal sebagai pencetus surjan lurik. Surjan adalah model busana adat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang umumnya dipakai oleh laki-laki. Sunan Kalijaga mengembangkan surjan lurik, bermotif garis-garis vertikal, yang belakangan disebut sebagai pakaian takwa. Pemakaian surjan biasanya dipadukan dengan blangkon dan kain jarik. Sang Sunan juga memberikan torehan motif burung pada batik. Dalam bahasa Kawi, burung disebut "kukila", yang dalam bahasa Arab merupakan rangkaian kata quu dan qiilla yang berarti peliharalah ucapanmu.

    2. Sunan Gunung Jati
    Salah satu murid Sunan Gunung Jati yang mengajarkan seni membatik kepada masyarakat Cirebon adalah Ki Buyut Trusmi. Ki Buyut Trusmi mengajarkan seni membatik sembari menyebarkan agama Islam pada 1448-1568. Belakangan dikenal dengan nama batik Trusmi, sesuai pula dengan nama desanya. Motif yang menjadi ciri khas selain Mega Mendung adalah motif keratonan yang diambil dari arsitektur dan interior Keraton Kanoman Cirebon yang dibangun sang Sunan. Motif lainnya adalah motif pesisiran, yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisiran.

    3. Sunan Drajat
    Di daerah Lamongan, ada museum khusus Sunan Drajat yang didirikan untuk menghormati jasa Sunan Drajat sebagai wali penyebar agama Islam. Salah satu isinya adalah batik Drajat, yang bermotif bunga teratai, burung garuda, singa, mahkota, dan kubah masjid. Motif-motif ini melambangkan kebijaksanaan untuk menangkal watak dan perilaku jahat, lebih mementingkan negara di atas kepentingan pribadi, dan melambangkan kekuasaan Tuhan.

    4. Sunan Gresik
    Maulana Malik Ibrahim adalah salah seorang wali senior yang dianggap pertama kali menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa. Belakangan, sang wali dikenal sebagai Sunan Gresik. Daerah yang ditujunya pertama kali adalah Desa Sembalo, yang terletak di Kecamatan Manyar, salah satu kecamatan di Kabupaten Gresik. Kehadirannya direkam dalam motif Mahkota Giri, yang mengangkat napas Islami. Motif ini melambangkan lima rukun Islam, seperti yang diajarkan sang Sunan. Selain itu, motif ini mengandung makna Sunan Giri pernah memimpin Giri Kedaton. Motif lainnya adalah Sekar Pudak, yang bercorak enam kelopak bunga pudak. Motif ini menggambarkan enam rukun iman.

    Baca: Perpaduan Tradisi Matador Spanyol dan Batik Lokal dalam Torrero

    5. Sunan Kudus dan Sunan Muria
    Sunan Kudus dan Sunan Muria menambah kaya motif batik yang dihasilkan perajin batik di Kudus. Corak batik Kudus lebih cenderung condong ke batik pesisiran, dan cenderung mirip dengan batik Pekalongan. Batik Kudus sendiri dikenal juga sebagai batik nyonya atau batik saudagaran karena kehalusan dan kerumitan isen-isennya. Kehadiran kedua wali memperkaya khazanah batik Kudus, terutama Kudus Kulon, dengan motif kaligrafi. Ada juga motif kapal kandas yang terkait dengan sejarah perdebatan Sunan Muria dengan Sam Po Kong.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.