Pentingnya Isi Media Sosial sebagai Penilaian dalam Rekruitmen

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pria dan wawancara kerja. Shutterstock

    Ilustrasi pria dan wawancara kerja. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggunaan media sosial juga harus menjadi salah satu aspek penilaian dalam rekruitmen kerja ataupun pendidikan. Pendapat itu disampaikan oleh Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC, Pratama Persada, menyusul viralnya kasus calon Taruna TNI berinisial EZA.

    "Ini menjadi hal yang menarik karena media sosial kini menjadi salah satu aspek penilaian dalam perekrutan kerja atau pendidikan," kata Pratama.

    Pratama menyebutkan, di luar isu EZA memang masyarakat sebaiknya menjadikan media sosial sebagai tempat silaturahim. Di sisi lain, ternyata banyak juga lembaga dan perusahaan yang menjadikan media sosial dan Google sebagai perangkat untuk melakukan profiling.

    Menurutnya, EZA mendadak viral di media sosial dan media massa lantaran pemuda berusia 18 tahun berdarah Prancis-Indonesia itu dinyatakan lolos menjadi Taruna Akademi Militer (Akmil) Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pemuda itu pun dikabarkan terindikasi sebagai simpatisan organisasi terlarang di Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

    Informasi terkait EZA ini hingga sekarang masih simpang siur. Kapuspen TNI sendiri meyakini bahwa EZA tidak terpapar radikalisme. "Tentu TNI telah memiliki sistem seleksi yang ketat terhadap para calon taruna, mulai dari tes tertulis, wawancara, hingga mungkin profiling di media sosial," kata Pratama.

    Enzo Zenz Allie, taruna Akademi Militer TNI keturunan Prancis, pernah mengenyam pendidikan di SMA Pondok Pesantren Unggul Al Bayan, Anyer, Kabupaten Serang, Banten.

    Apabila EZA terpapar HTI, maka sudah sepantasnya EZA diberhentikan karena di Indonesia HTI sudah dikategorikan sebagai organisasi terlarang. Namun, apabila ternyata EZA tidak ada sangkut pautnya dengan HTI, maka penyebar berita ini perlu diklarifikasi.

    "Apabila hal ini diketahui sebagai hoaks atau berita palsu, maka penyebar berita ini dapat terjerat dengan UU ITE," kata Pratama.

    Pratama memang tidak menampik adanya foto EZA sedang naik gunung membawa bendera lafas kalimat tauhid. Yang menjadi perdebatan netizen adalah apakah itu bendera HTI atau bukan.

    "HTI memang di setiap acara dan aksi selalu membawa bendera serupa, namun banyak juga umat Islam di luar HTI yang menjadikan bendera tersebut sebagai atribut, baik di pesantren maupun di sekolah. Karena itu perlu penjelasan lebih dalam dari MUI soal bendera tersebut," kata Pratama.

    EZA diketahui fasih berbicara empat bahasa yakni Prancis, Inggris, Arab, dan Indonesia. Dia lahir di Prancis, tapi pindah ke Indonesia pada usia 13 tahun setelah ayahnya meninggal dunia dan memiliki status WNI. Namun, dia diduga terpapar gerakan HTI yang diketahui dari salinan gambar media sosial Facebook.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.