Pengetahuan Reproduksi Remaja Masih Minim, Ini Akibatnya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi remaja pacaran. childtrends.org

    Ilustrasi remaja pacaran. childtrends.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Minimnya pengetahuan reproduksi pada remaja membuat penyimpangan perilaku seksual cenderung meningkat. Begitu menurut dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), dr. Fazidah A. Siregar MKes.PhD.

    Ia mengatakan hasil studi di Indonesia menunjukkan bahwa remaja yang telah melakukan penyimpangan perilaku seksual berisiko mengalami peningkatan. "Padahal, menjaga kesehatan reproduksi adalah penting, terutama pada masa remaja dan ke depan sebagai calon-calon pemimpin bangsa," kata Fazidah.

    Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa dalam segala aspek biologis, psikologis, maupun sosial. "Belum terpenuhinya hak-hak reproduksi dapat menimbulkan masalah bagi remaja dan bahkan mengakibatkan kematian," ujar Fazidah. "Peningkatan pengetahuan tentang kespro pada remaja melalui pendidikan formal dan nonformal."

    Fazidah menyatakan masa transisi ini sulit bagi remaja karena berlangsung proses perubahan dalam tubuh, meliputi perubahan biologis terkait perubahan hormon dan hormon reproduksi. Perubahan psikologis dipengaruhi pergaulan dalam lingkungan dan menghadapi tekanan emosi serta sosial yang saling bertentangan.

    Ilustrasi remaja pacaran. doorwaysarizona.com

    Selain itu, pada masa kini remaja sering diliputi ketidaktahuan tentang perkembangan diri, yang dapat menimbulkan problematika tersendiri, tidak lain bersumber pada kurangnya pengetahuan tentang perubahan dalam diri terkait kesehatan reproduksi.

    Kondisi minim informasi akan kesehatan reproduksi dan perkembangan emosi yang masih labil, sehingga membuat remaja dihadapkan pada kebiasaan yang tidak sehat, seperti seks bebas, merokok, minum-minuman beralkohol, penyalahgunaan obat, dan suntikan.

    Adaptasi kebiasaan itu, seiring dengan alat-alat reproduksi remaja yang mulai berfungsi, pada akhirnya akan mempercepat usia awal seksual aktif, serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi.

    "Kurangnya edukasi terkait kesehatan reproduksi pada remaja memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, antara lain pernikahan usia muda, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, infeksi menular seksual, kekerasan seksual, dan lain-lain," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.