Hubungan Bermasalah? Bisa Jadi karena Campur Tangan Orang Tua

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bertemu mertua. Shutterstock

    Ilustrasi bertemu mertua. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Keberadaan orang ketiga dalam rumah tangga, termasuk orang tua, bisa memicu konflik yang disadari atau tidak bisa berakibat buruk pada hubungan suami istri. Mungkin saja orang tua memiliki niat baik dalam membantu anak.

    Akan tetapi, keterlibatan orang tua dalam hubungan rumah tangga bisa tidak sehat karena beragam alasan. Berikut alasannya menurut Boldsky.com.

    Mengganggu privasi
    Mungkin ada situasi di mana orang tua melanggar privasi dengan langsung berkomunikasi dengan pasangan. Dalam kebanyakan kasus, ini dilakukan dengan niat baik karena mereka ingin memberikan beberapa saran untuk menjalankan hubungan dengan cara yang lebih baik. Tetapi, kadang-kadang orang tua mungkin melibatkan anggota keluarga dan kerabat lain dalam hal ini juga.

    Terlalu banyak terlibat
    Tidak ada keraguan bahwa orang tua sangat menyayangi anak-anak mereka. Orang tua yang khawatir mungkin terlalu terikat pada anak-anak dan akan memenuhi setiap kebutuhan. Mereka tidak akan membiarkan anak-anak terluka karena alasan apa pun. Tapi, itu bisa bermasalah ketika putra atau putri mereka memiliki pasangan. Selalu ikut campur urusan anak-anak mereka dapat memiliki dampak negatif dalam jangka panjang.

    Menggunakan uang sebagai senjata
    Masalah terkait uang dapat menyebabkan masalah besar di antara pasangan, terutama jika pasangan tidak mampu menghasilkan penghasilan yang baik. Dalam hal ini, beberapa orang tua mencoba yang terbaik untuk membantu anak-anak.

    Mereka akan mencoba mengirim sejumlah uang agar Anda dan pasangan tidak mengalami kesulitan. Tapi, ini mungkin tidak cocok dengan pasangan dan bahkan mungkin membuatnya marah ketika mengirim pesan bahwa pasangan secara finansial tidak mampu merawat Anda. Lebih lanjut, beberapa orang tua melakukan ini untuk memanipulasi dan mengendalikan gaya hidup dan hubungan anak-anak mereka.

    Terlalu Banyak berharap
    Orang tua selalu memiliki harapan dari anak-anak mereka. Mereka mungkin memiliki harapan seperti memiliki anak atau membeli rumah atau mobil. Mereka akan terus-menerus meminta Anda untuk memenuhi harapan itu dan ini mungkin membuat Anda merasa terjebak pada suatu saat masalah yang tidak terselesaikan.

    Sering mengeluhkan menantu
    Jika orang tua tidak menyukai pasangan, mereka mungkin mengeluh tentang perilaku atau kebiasaan pasangan Anda sesekali. Ini bisa membuat pasangan merasa kesal dan kecewa. Akibatnya, Anda dan pasangan mungkin mengalami fase buruk di mana Anda tidak akan mengerti bagaimana cara berurusan dengan orang tua dan pasangan.

    Memaksakan keputusan
    Terkadang orang tua mungkin memaksakan keputusan pada dan berpikir itu akan bermanfaat bagi Anda dan pasangan. Mereka mungkin meminta Anda untuk pindah ke tempat tertentu dengan berpikir bahwa Anda dan pasangan akan memiliki masa depan yang cerah.

    Selain itu, mereka mungkin memaksakan kepercayaan dan tradisi budaya mereka pada Anda berdua. Ini dapat menyebabkan konflik yang tidak diinginkan antara Anda dan pasangan.

    Sering berkunjung
    Kunjungan yang sering mereka lakukan dapat menghambat privasi dan waktu luang di akhir pekan, di mana Anda bisa menikmati saat-saat intim dan romantis bersama pasangan, juga jika keadaan tidak berjalan baik antara pasangan dan orang tua, maka kunjungan yang sering dapat menyebabkan keadaan yang tidak diinginkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.