Mirip Golf, Olahraga Menembak Bisa Jadi Ajang Melatih Emosi

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi melakukan peninjauan latihan atlet Asian Para Games 2018 cabang olahraga menembak di Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis, 27 September 2018. Jokowi menargetkan kontingen Indonesia masuk delapan besar dalam perolehan medali Asian Para Games 2018. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi melakukan peninjauan latihan atlet Asian Para Games 2018 cabang olahraga menembak di Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis, 27 September 2018. Jokowi menargetkan kontingen Indonesia masuk delapan besar dalam perolehan medali Asian Para Games 2018. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Penasihat Ahli Menteri Perindustrian, Setyo Wasisto mengatakan olahraga menembak ternyata berfungsi untuk melatih konsentrasi dan pengendalian diri. Purnawirawan Polri dengan pangkat Komisaris Jenderal (Komjen) ini menyebut menembak adalah olahraga untuk mengalahkan diri sendiri. Sama halnya dengan golf, butuh kesabaran dan emosi yang stabil ketika melakukan olahraga ini. "Kalau lagi emosi, kita nembaknya pasti jelek," sebutnya.

    Hal inilah yang mendorong Setyo untuk menggeluti olahraga menembak, bahkan sebelum dia menjadi seorang polisi. Mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri ini mengatakan sejak kecil dia sudah bergelut di dunia tembak menembak. Diingatnya, saat kelas 5 SD dia bahkan sudah menjadi anggota Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) di Semarang. "Kelas 5 SD sudah ikut pertandingan, itu tahun 1972. Latihan dulu di rumah. Saya kelas 3-4 SD sudah megang senjata angin," kata Setyo.

    Lulusan Akpol 1984 yang berpengalaman di bidang intelijen ini mengaku jatuh cinta dengan olahraga menembak lantaran sering melihat ayahnya yang mantan seorang tentara pelajar di Semarang, Marwoso Soerosewoko berlatih menembak dan berburu. "Dulu saya sering diajak berburu tupai ke kebun. Sekarang sudah tidak boleh berburu tupai," katanya.

    Setyo terkenang sebuah peristiwa ketika dia melanggar perkataan orang tuanya untuk tidak menembak burung perkutut. Dua kali melanggar, alhasil per dari senapan angin yang dipakai selalu patah dan menjadi beberapa bagian. "Kejadian sampai 2 kali melanggar tembak burung perkutut. Saya nggak ngerti apa hubungannya tapi setiap melanggar (aturan) patah terus," ucapnya sambil tertawa kecil.

    Kini dirinya tak lagi memakai senapan angin. Setiap kali olahraga menembak, Setyo menggunakan pistol merk STI kaliber 9 milimeter yang dibelinya seharga Rp 40 juta pada 2008 silam. Setidaknya dia mengoleksi sekitar 9 buah senjata api yang disimpan di gudang Perbakin. "Tapi itu mulai dikurangi karena sudah pensiun (dari polisi)," katanya.

    Sementara itu, Setyo yang juga Ketua Umum Perbakin DKI Jakarta ini mengakui saat ini banyak kaum milenial yang menggeluti hobi menembak. Nyatanya, menembak adalah olahraga yang aman sepanjang mengikuti aturan. "Orang tua yang ingin anaknya jadi atlet menembak, tidak perlu khawatir sepanjang aturan diikuti secara disiplin," kata Setyo.

    Apalagi, olahraga ini menurutnya sangat berpeluang bagi anak muda yang ingin mendapat prestasi. Sebab, menembak merupakan cabang olahraga resmi yang dipertandingkan di berbagai acara olahraga nasional maupun internasional.

    Perbakin pun saat ini telah mendirikan sekolah menembak. Setyo tengah mendorong agar sekolah-sekolah yang mampu, menyelenggarakan ekstrakulikuler menembak untuk mendorong menciptakan atlet.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.