Dirisak karena COVID-19, Tifauzia Tyassuma Dapat Dukungan Ahli

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dr. Tifauzia Tyassuma. Instagram.com

    Dr. Tifauzia Tyassuma. Instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Baru-baru ini, nama Tifauzia Tyassuma menjadi buah bibir masyarakat. Pasalnya, bahasa yang digunakan oleh ahli epidemiologi itu saat menyampaikan pesan terkait penyebaran COVID-19 di Indonesia dinilai amat kontroversial dan keras.

    Salah satu contohnya ia mengatakan lockdown sudah terlambat dan yang bisa disiapkan oleh pemerintah saat ini adalah kuburan massal. Berbagai prediksi tentang virus corona juga disampaikan, khususnya mengenai jumlah pasien yang akan mencapai jutaan dan masa pandemi yang berlangsung lama.

    Tak heran, banyak orang pun merisak pernyataan Direktur Eksekutif dari Clinical Epidemiology dan Evidence Based Medicine FKUI-RSCM tersebut. Meski begitu, ia mengaku tak terusik.

    “Karena semua statement yang saya sampaikan di media sosial maupun media mainstream itu betul-betul sudah saya verifikasi validitasnya,” katanya.

    Sebagai seorang dokter, peneliti, dan praktisi kesehatan yang terjun langsung ke lapangan, Tifa mengatakan apa yang disampaikannya memiliki taraf kepercayaan 90 persen.

    “Sebagai epidemiolog yang berkompeten dalam bidang prediksi dan konsultasi informasi dengan peneliti di seluruh dunia, semuanya valid dan sampai sekarang terbukti. Jadi yang tidak setuju, ya tinggal kita buktikan saja siapa yang benar,” ujarnya.

    Tifa juga menambahkan perlawanan mungkin hanya diberikan oleh orang yang awam dan hanya membekali pengetahuan lewat media sosial. Sedangkan bagi yang paham, seperti para ahli dan peneliti, tidak ada yang menentang, bahkan sebaliknya, memberi dukungan penuh.

    “Beberapa waktu yang lalu saya sempat satu sesi dengan Profesor Amin Soebandrio dan Faisal Yunus. Beliau orang yang sangat lama tahu saya, jadi mereka mendukung sekali,” tuturnya.

    Tak jarang, para ahli dan peneliti juga berterimakasih atas apa yang sudah disampaikan oleh Tifa sebab ia telah menjadi tempat untuk bertukar informasi dengan para direktur rumah sakit di seluruh Indonesia, baik senior, kolega, maupun dokter-dokter peneliti.

    “Jadi, tidak ada kalau dari orang-orang di sekeliling saya yang menentang. Semuanya sama-sama setuju. Mereka sangat berterima kasih karena saya kumpulkan hasil dari sejawat di seluruh dunia,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.