Iklim dan Cuaca Indonesia Bisa Menghambat Virus Corona, tapi...

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki keuntungan geografis yang bisa menghambat penyebaran virus corona alias Covid-19. Indonesia, yang berada di sekitar Garis Khatulistiwa, memiliki suhu rata-rata 27- 30 derajat Celcius. Kelembapan udara di Indonesia pun berkisar 70-95 persen. "Temperatur dan kelembapan udara yang tinggi hampir sepanjang hari, kurang mendukung virus Covid-19 bertahan di udara terbuka," kata Dwikorita pada Kulwap yang diinisiasi oleh Aliansi Jurnalis Independen, Selasa 7 April 2020.

    Virus corona bisa stabil dan berkembang biak di suhu 1 hingga 10 derajat Celcius dan dengan kelembapan udara antara 40 hingga 50 persen.

    Suhu di Jakarta pun seharusnya bisa menghalangi perkembangbiakan virus corona. Pada siang hari, suhu Jakarta bisa mencapai 30 derajat Celcius atau lebih.

    Pada musim kemarau yang berlangsung pada April-Agustus 2020, diperkirakan akan terjadi peningkatan suhu dan kelembapan di Indonesia. Saat itu suhu maksimum di siang hari bisa mencapai 36 derajat Celcius. "Kondisi ini menguntungkan Indonesia yang secara alami dapat menghambat perkembangan Covid-19," katanya.

    Walau memiliki keuntungan dalam hal tingkat kelembapan udara, mengapa penyebaran virus corona masih terjadi di Ibu Pertiwi? Dwikorita menjelaskan iklim dan cuaca bukan satu-satunya faktor yang mengontrol penyebaran epidemi Covid-19. "Ada pula faktor demografi manusia dan mobilitasnya, ataupun interaksi sosial, serta upaya intervensi kesehatan masyarakat," katanya.

    Ia menilai mobilitas manusia menjadi salah satu faktor pendukung penyebaran virus corona di negeri ini. Menurutnya, hingga akhir Maret 2020 masih banyak orang yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. "Pembatasan mobilitas orang belum berjalan efektif saat itu," katanya.

    Ia pun menyarankan agar upaya pembatasan mobilitas orang dan interaksi sosial secara lebih optimal perlu ditingkatkan. Sehingga faktor cuaca dapat berpengaruh lebih maksimal untuk pengurangan risiko penyebaran wabah Covid-19.

    "Jadi apabila upaya pembatasan sosial diterapkan dengan ketat dan efektif, diperkirakan datangnya musim kemarau dapat mendukung upaya mitigasi wabah ini," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.