IDAI : Ada 3 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Bila Ingin Buka Sekolah saat Pandemi

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi orang tua antar anaknya ke sekolah. pbs.org

    Ilustrasi orang tua antar anaknya ke sekolah. pbs.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 belum menemukan titik terang. Hal tersebutlah yang membuat berbagai kebijakan terkait era new normal harus dijalankan. Salah satu yang masih pro dan kontra di masyarakat adalah tentang membuka sekolah.

    Sebelumnya, Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, mengatakan sekolah yang berada di zona hijau dan kuning boleh beroperasi seperti biasa. Tujuannya, agar anak kembali bersekolah tatap muka supaya efektivitas belajar bisa dirasakan lagi.

    Namun sepertinya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) lebih menyarankan untuk tetap menutup sekolah. Ketua IDAI Aman Bhakti Pulungan mengatakan total anak di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan PAUD mencapai 60 juta orang.

    “Ditambah lagi dengan pesantren 19 juta, itu menjadi total 79 juta anak masuk sekolah. Ini bisa menjadi klaster baru. World economic forum yang ahli ekonom, bukan tenaga kesehatan pun menganjurkan untuk menunda pembukaan sekolah karena bisa menyelamatkan nyawa,” katanya dalam webinar Analisis Komunikasi Publik Terkait Kebijakan Penanganan Covid-19 pada 19 September 2020.

    Adapun sebelum benar-benar memperbolehkan sekolah dibuka, Aman pun memberikan setidaknya tiga hal yang harus dipertimbangkan. Pertama, terkait epidemiologi. Ia meminta agar status wabah sudah terkendala lebih dahulu

    “Dari epidemiologi, apakah wabah sudah terkendali? Jelas belum. Sekarang saja masih PSBB (pembatasan sosial berskala besar). Pertanyaan pertama ini sudah menjadi alasan konkrit sebenarnya untuk tidak membuka sekolah,” katanya.

    Kedua, Aman juga menggarisbawahi keterkaitan sistem kesehatan. Ia menerangkan bahwa hingga kini, sistem kesehatan belum mampu menangani kasus pasien Covid-19 yang kian meningkat jumlahnya. Terlebih dengan risiko klaster baru di lingkungan sekolah, tentu membuat semakin memberatkan sistem kesehatan untuk bekerja.

    “Sekarang kita lihat ke sistem kesehatan. Apakah sistem kesehatan akan mampu menangani peningkatan kasus covid-19 yang mungkin terjadi jika dilakukan pelonggaran protokol kesehatan? Tidak, jujur saja. Yang ada nanti akan semakin bermasalah jika ditambah beban dari klaster baru,” katanya.

    Terakhir tentang pemantauan kesehatan masyarakat. Aman mengatakan, hingga kini pemantauan kesehatan belum mampu mendeteksi dan menangani setiap kasus yang muncul. Pemerintah pun belum bisa menelusuri kontak, dan mengidentifikasi peningkatan kasus

    “Jujur lagi, pemantauan kesehatan masyarakat juga belum bekerja optimal. Untuk itu, sekarang yang terpenting adalah membenahi dahulu semua kebutuhan terkait kesehatan. Setelah seluruhnya aman, barulah kita mengatasi masalah baru terkait pendidikan ke sekolah. Intinya selama satu kasus belum selesai, jangan buka kasus baru,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggunaan Masker Bagi Sebagian Orang Bisa Menimbulkan Jerawat

    Saat pandemi seperti sekarang ini penggunaan masker adalah hal yang wajib dilakukan.