Dokter Anjurkan Pasien Covid-19 Tak Olahraga Dulu, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pasien OTG COVID-19 berolahraga di salah satu hotel yang dijadikan sebagai tempat isolasi di Kawasan Senen, Jakarta, Selasa, 26 Januari 2021. Kasus COVID-19 di Tanah Air diperkirakan mencapai angka 1 juta kasus, jika penambahan kasus Covid-19 harian lebih dari 10.000 kasus. Pasalnya, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat penambahan 9.994 kasus konfirmasi positif COVID-19 pada Senin (25/1/2021). TEMPO/Muhammad Hidayat

    Sejumlah pasien OTG COVID-19 berolahraga di salah satu hotel yang dijadikan sebagai tempat isolasi di Kawasan Senen, Jakarta, Selasa, 26 Januari 2021. Kasus COVID-19 di Tanah Air diperkirakan mencapai angka 1 juta kasus, jika penambahan kasus Covid-19 harian lebih dari 10.000 kasus. Pasalnya, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat penambahan 9.994 kasus konfirmasi positif COVID-19 pada Senin (25/1/2021). TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Spesialis kedokteran olahraga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Andhika Raspati, menyarankan pasien COVID-19 tak bergejala atau bergejala ringan saat ini tidak berolahraga dulu. Merujuk pada literatur, salah satunya dalam British Journal of Sport Medicine, latihan fisik, termasuk olahraga, pada pasien COVID-19 berpotensi cedera jantung, termasuk miokarditis.

    Hal ini penting, karena olahraga dengan miokarditis berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas.

    "Menurut literatur, semakin banyak pakar kesehatan yang menganjurkan saat orang positif COVID-19 meskipun tanpa gejala (OTG) atau gejala ringan, rest dulu karena ada satu ancaman, yaitu miokarditis," kata dokter KONI DKI Jaya itu.

    Menurutnya, untuk tetap aktif pasien bisa melakukan latihan peregangan atau pernapasan. Sebaliknya, dia sementara waktu tidak perlu melakukan latihan kardio, jogging santai, berlari di treadmill walau dengan kecepatan lambat, karena dikhawatirkan bila ada miokarditis maka akan semakin berat.

    Setelah selesai masa isolasi mandiri selama sekitar dua pekan, pasien baru bisa perlahan melakukan latihan namun sebatas berjalan kaki selama 10 menit sebagai upaya test drive di pekan pertama. Sambil bergerak, cobalah evaluasi apakah ada gejala seperti sesak napas, nyeri dada, atau pusing. Bila ada, tanda tubuh belum siap.

    Sejumlah pasien OTG COVID-19 berolahraga di salah satu hotel yang dijadikan sebagai tempat isolasi di Kawasan Senen, Jakarta, Selasa, 26 Januari 2021. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Sebaliknya, apabila tak ada gejala, penyintas COVID-19 bisa perlahan meningkatkan durasi latihan menjadi 10, 15, hingga 20 menit. Tingkatkan kecepatan perlahan dari jalan pelan menjadi jogging santai dan diharapkan lambat laun latihan akan kembali seperti semula, baik dari sisi durasi maupun kecepatan.

    Miokarditis, menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Junior Doctor Network (JDN), Vito A. Damay, merupakan bentuk peradangan pada otot jantung. Saat otot mengalami peradangan, maka fungsi jantung untuk memompa darah menjadi terganggu.

    Hanya saja, merujuk pada studi dalam jurnal the BMJ, angka kejadian miokarditis pada yang tidak bergejala atau memiliki penyakit ringan hingga sedang belum diketahui. Menurut Vito, olahraga pada pasien COVID-19 dikhawatirkan memperberat kondisi sehingga rentan masuk ke penyakit lebih berat.

    "Saat berolahraga takutnya memperberat kondisi yang berat sehingga rentan masuk ke penyakit lebih berat. Walau demikian kita masih belajar (mengenai olahraga pada pasien COVID-19). Lakukan stretching ringan, jangan bedrest juga kalau OTG," kata Vito.

    Baca juga: Perlunya Olahraga untuk Kesehatan Fisik dan Mental


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H