Radikal Bebas Korelasinya dengan Tumor dan Kanker

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock

    Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock

    TEMPO.CO, JakartaRadikal bebas menjadi salah satu penyebab peningkatan resiko berbagai penyakit seperti kanker. Radikal bebas ini dapat ditemukan dalam makanan atau obat-obatan yang dikonsumsi.

    Sebenarnya, radikal bebas membantu tubuh untuk melawan infeksi, memulai proses peradangan yang membantu memperbaiki kerusakan jaringan, dan stres oksidatif jangka pendek yang dapat menghambat penuaan. Namun jumlah yang berlebihan dapat membahayakan tubuh.

    Mengutip dari Rice University, saat radikal bebas terbentuk, reaksi berantai bisa terjadi. Radikal bebas akan menarik elektron dari molekul, yang membuat molekul tidak stabil dan mengubahnya menjadi radikal bebas.

    Molekul itu kemudian mengambil sebuah elektron dari molekul lain, membuatnya tidak stabil, dan mengubahnya menjadi radikal bebas. Efek domino ini pada akhirnya dapat mengganggu dan merusak seluruh sel.

    Reaksi berantai radikal bebas ini pun dapat menyebabkan membran sel rusak. Hal ini dapat mengubah struktur lipid, membuat lebih mungkin terperangkap di arteri. Molekul yang rusak ini kemudian dapat bermutasi dan menumbuhkan tumor.

    Selain tumor, beberapa penyakit yang disebabkan oleh berlebihnya radikal bebas pada tubuh yaitu penyakit kardiovaskular, kanker, emfisema, alkoholisme, alzheimer, parkinson, bisul, dan semua penyakit inflamasi, seperti arthritis dan lupus.

    WINDA OKTAVIA

    Baca: Bahaya dan Penyebab Radikal Bebas pada Tubuh

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    PTM 100 persen DKI Tetap Berjalan Meski Didesak Banyak Pihak

    Pemprov Ibu Kota tetap menerapkan PTM 100 persen meski banyak pihak mendesak untuk menghentikan kebijakan itu. Sejumlah evaluasi diberikan pihak DKI.