Agar Sperma Bermutu, Para Calon Ayah Harus Tidur 8 Jam per Hari  

Jum'at, 19 Mei 2017 | 09:45 WIB
Agar Sperma Bermutu, Para Calon Ayah Harus Tidur 8 Jam per Hari  
Ilustrasi. webmd.com

TEMPO.CO, Jakarta - Bagi Anda yang saat ini tengah berjuang untuk menjadi ayah, tidurlah minimal delapan jam sehari demi menjaga kualitas sperma Anda.

Baca: Aktivitas Seks Setiap Hari Justru Meningkatkan Kualitas Sperma...

Para peneliti sangat menyarankan para calon ayah mulai tidur pukul 20.00-22.00 untuk menjaga kualitas sperma agar tetap bagus. Pada jam-jam tersebut, sperma dapat bergerak secara maksimal dan memiliki kesempatan besar untuk dapat membuahi sel telur.

Tidak hanya dapat menurunkan tingkat sperma, laki-laki yang gemar begadang memiliki sperma yang tidak berkualitas, dengan kata lain tidak subur dan cepat mati. Kurang tidur pada malam hari juga dapat meningkatkan antisperm antibody (ASA), yakni kekebalan tubuh yang mengenali sel sperma layaknya virus.

Normalnya, pada tubuh sel sperma, terdapat pelindung unik yang menyebabkan ia tidak dikenali tubuh wanita sebagai benda asing. Pada beberapa kasus, termasuk yang kerap tidur larut malam, pelindung tersebut tidak berjalan dengan baik. Hasilnya, sperma dikenali layaknya virus sehingga diserang antibodi pasangan.

Seperti dilansir Daily Mail, 13 Mei 2017, para peneliti dari Sekolah Kedokteran Harbin menemukan fakta bahwa laki-laki yang hanya tidur enam jam pada malam hari memiliki jumlah sperma 25 persen lebih rendah dibanding mereka yang tidur selama delapan jam.

Penelitian ini melibatkan 981 partisipan laki-laki dalam keadaan tubuh sehat untuk diperiksa kualitas spermanya. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan waktu mulai tidur, yakni pukul 20.00-22.00, 22.00-24.00, dan di atas tengah malam. Masing-masing kelompok juga diwajibkan menyetel alarm enam jam, tujuh atau delapan jam, dan sembilan jam atau lebih.

BOLDSKY | ESKANISA RAMADIANI



 




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan