Minggu, 24 Juni 2018

Simbol dan Makna Bleketepe di Pernikahan Kahiyang Ayu

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama dengan Iriana Jokowi memasang bleketepe saat jelang prosesi siraman Kahiyang Ayu dan Bobby Afif Nasution di sekitar kediaman di Solo, 7 November 2017. Tradisi memasang 'blaketepe' atau anyaman daun kelapa ini untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manten. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Presiden Joko Widodo bersama dengan Iriana Jokowi memasang bleketepe saat jelang prosesi siraman Kahiyang Ayu dan Bobby Afif Nasution di sekitar kediaman di Solo, 7 November 2017. Tradisi memasang 'blaketepe' atau anyaman daun kelapa ini untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manten. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Jakarta - Bleketepe, mendadak viral saat ini. Terutama setelah Presiden Joko Widodo menggelar acara siraman dalam rangkaian proses pernikahan anak semata wayangnya, Kahiyang Ayu dengan Bobby Afif Nasution, Selasa pagi 7 November 2017.

    Saat itu, seperti ditulis TEMPO, Presiden Joko Widodo bersama dengan Iriana Jokowi memasang bleketepe saat jelang prosesi siraman Kahiyang Ayu dan Bobby Afif Nasution di sekitar kediaman di Solo, 7 November 2017. Bleketepe adalah anyaman daun kelapa yang masih hijau biasanya berukuran 50 centimeter x 200 centimeter.

    Baca juga:
    Tradisi 'Tumpeng Jongko' untuk Pernikahan Kahiyang Ayu, Apa itu?
    Kahiyang Ayu Menikah, Hadirkah Para Mantan di Pernikahannya?

    Presiden Jokowi memasang bleketepe saat jelang prosesi siraman Kahiyang Ayu di sekitar kediaman di Solo, 7 November 2017. Tradisi memasang ’blaketepe’ atau anyaman daun kelapa ini untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manten. Instagram/@Thebridestory
    Untuk memasang bleketepe, Jokowi langsung naik tangga alumunium yang telah disiapkan. Kemudai anyaman dari pohon kelapa itu dipasang pada kerangka yang sudah ditentukan. Setelah itu, Jokowi bersama Iriana membuka kain yang menyelubungi tandan pisang yang terpasang. Mereka juga mengambil padi dari nampan yang dibawa Gibran Rakabuming, kemudian memasangnya di sekitar pisang itu.

    Pemasangan bleketepe-nya sendiri dalam istilah Jawa, menurut pengamat budaya Jawa, Mufti Raharjo, disebut memasang tarub. "Istilah tersebut juga mengambil nama dari Jaka Tarub," katanya kepada Tempo, Selasa 7 November 2017.

    Dalam prosesi memasang tarub itu, orang tua calon pengantin memasang hiasan dari tumbuh-tumbuhan, seperti daun beringin, pisang raja, tebu wulung, padi-padian serta hiasan dari daun kelapa yang biasa disebut bleketepe. Masing-masing memiliki makna tersendiri.

    "Padi menyimbolkan kemakmuran," katanya. Sedangkan daun beringin menyimbolkan perlindungan kepada keluarga. "Tebu wulung terkenal sangat manis, sebagai harapan agar keluarga bisa dibangun dengan harmonis," katanya. Juga pisang raja yang masak , simbol agar pengantin dianugerahi kemakmuran dan kemuliaan seperti para raja.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.