Rabu, 23 Mei 2018

Punya Sifat Pura-Pura Tulus, Apa Kata Ahli?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • FPC. Perasaan Pria. shutterstock.com

    FPC. Perasaan Pria. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Bersikap baik tapi tak tulus tidak bisa membodohi siapapun, menurut sebuah studi baru dari para peneliti di Harvard dan University of North Carolina Chapel Hill.

    Peneliti dalam jurnal Personality and Social Psychology mengungkapkan, berlagak lalu menutupinya dengan kerendahan hati benar-benar membuat orang lain tak menyukai Anda.

    "Ini fenomena umum. Kita semua mengenal beberapa orang di media sosial maupun di tempat kerja, melakukan hal yang menyebalkan ini," kata asisten profesor perilaku organisasi di UNC, Ovul Sezer saat dilansir Time. Baca: Naik Jet Pribadi, 10 Perusahaan Dunia ini Puaskan Karyawan 

    "Anda pikir menjadi orang yang paling rendah hati adalah yang terbaik, tapi yang kami tunjukkan adalah ketulusan sebenarnya adalah utama," sambung dia.

    Sezer dan timnya melakukan serangkaian eksperimen untuk menentukan seberapa umum perilaku berpura-pura rendah hati dan bagaimana orang lain memandangnya.

    Mereka menemukan, dari 646 orang yang disurvei, 70 persen orang mengetahui perilaku ini.

    Selanjutnya, peneliti membagi dua jenis perilaku, pertama yang disertai keluhan, misalnya "Saya benci bahwa saya terlihat sangat muda, bahkan seorang anak berusia 19 tahun berani menyerang saya!" Baca: Naik Jet Pribadi, 10 Perusahaan Dunia ini Puaskan Karyawan

    Lalu yang kedua, disertai unsur kerendahan hati, misalnya "Mengapa saya selalu diminta mengerjakan yang paling penting ?" Hasilnya, sekitar 60 persen orang melakukan ini.

    Sezer mengatakan, tanpa disadari Anda mungkin melakukannya. "Kita semua melakukannya, sampai batas tertentu. Saya harap saya tidak terdengar seperti orang gila saat membicarakan penelitian ini," kata dia.

    "Jika Anda ingin memberitahukan sesuatu, setidaknya beritahu dengan tulus (tanpa perlu berlagak)," kata Sezer. Lebih baik lagi, kata dia, mintalah orang lain untuk membantu Anda bicara.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Mahathir Mohamad Menjabat Kembali Perdana Menteri Malaysia

    Setelah mundur sebagai Perdana Menteri Malaysia pada 2003, Mahathir Mohamad kembali ke politik demi menyelesaikan masalah yang dihadapi negaranya.