Adanya 9 persen peningkatan risiko, sambung Milkowski, dalam laporan ini dapat menjadi kesalahan statistik, dan tidak cukup membuat banyak orang khawatir. Ia juga mengkritisi laporan WHO 2015 yang memberi label daging olahan kemungkinan karsinogen dan meningkatkan risiko kanker usus hingga 18 persen.

Penulis utama proyek terbaru dan peneliti di Harvard T. H. Chan School of Public Health juga mengandalkan pada studi yang menyurvei perempuan sebelum mereka menerima diagnosis. Mereka cenderung tidak mengacaukan diet pra dan pascakanker mereka.
Resep Sosis Lada Hitam
Mengenai konsumsi jumlah serat atau buah-buahan dan sayuran dalam diet seseorang itu dapat menurunkan risiko penyakit kanker, lanjut Farvid, itu pun hanya berpengaruh sedikit. Sebab, beberapa faktor risiko kanker payudara itu tidak dapat diubah, seperti apakah perempuan memiliki gen kanker payudara saat mereka mendapat menstruasi.

Baik Farvid dan McCullough sama-sama merekomendasikan diet American Cancer Society untuk memperhatikan jumlah daging olahan yang Anda konsumsi guna meminimalkan risiko kanker.

“Perbanyak makan sayuran dan konsumsi daging merah dan olahan dalam jumlah sedikit menjadi rekomendasi yang sama untuk pola sehat lainnya,” pungkas McCullough. 

Baca juga: Ari Wibowo Gemar Nikmati Daging Kambing, Simak 13 Manfaat Baiknya