Kamis, 15 November 2018

Hari Pahlawan 2018, Ini Alasan Milenial Harus Rajin Baca Buku

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita membaca buku. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita membaca buku. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Terkait Hari Pahlawan 2018, generasi muda atau milenial harus semangat untuk membangun Indonesia. Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden Jokowi seusai menghadiri acara bersepeda santai bertajuk "Bandung Lautan Sepeda" di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 10 November 2018.

    Baca juga: Kenapa Orang Tua Sering Disebut Pahlawan? Simak Aktor Muda Ini

    "Semangat untuk memajukan bangsa ini, semangat untuk membuat negara Indonesia ini maju. Semangat berinovasi, semangat berkreasi, semangat berkarya, semangat bekerja, semangat optimis, semangat. Pokonya yang semangat, semangat, semangat," kata Presiden Jokowi.

    Pesan untuk milenial juga disampaikan Duta Baca Indonesia Najwa Shihab.  Milenial, menurut Najwa harus berani menjadi agen perdamaian dengan banyak membaca dan berani mengambil keputusan.

    Putri dari Quraish Shihab ini menyebut saat ini pendidikan dasar di Indonesia memang sudah berhasil mencapai 94 persen. Sayangnya, angka itu masih harus ditingkatkan untuk taraf sekolah menengah sampai perguruan tinggi.

    Hal ini tercermin dari sejumlah riset soal rendahnya minat baca di Indonesia. Najwa pun mengajak 100 anak muda dari seluruh Indonesia yang terpilih dalam ajang ‘Millenial Movement’ dari Maarif  Institute untuk mulai rajin membaca agar bisa menjadi agen perdamaian pada masa depan.
    Najwa Shihab. TEMPO/Nita Dian
    “Coba dibayangkan ketika usia kemerdekaan Indonesia sudah mencapai 100 tahun. Saya berharap anak-anak muda di Indonesia sudah bisa menguasai 3 isu penting yakni anti korupsi, toleransi, dan ketiga adalah partisipasi,” kata Najwa di Hotel Aryaduta Jakarta, Sabtu 10 November 2018.

    Najwa menilai anak muda Indonesia masih mengalami keraguan untuk bersikap, namun di sisi lain juga terlalu menggebu-gebu mengutarakan pilihan. Najwa juga menilai, minat baca anak muda Indonesia masih rendah karena waktu dihabiskan lewat media sosial dan untuk online.

    “Membaca itu luar biasa, dan membuat kita tidak jadi bangsa kelas teri. Membaca memiliki daya imajinasi, dan itu luar biasa, itu membuat kita punya keluasan hati, tidak mudah diprovokasi. Dan membaca juga membuat kita tidak mudah menjadi orang yang menghakimi,” terang Najwa.

    Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini menyebut, pribadi yang gemar membaca adalah orang yang sabar karena dia akan menunda mengambil kesimpulan sampai halaman terakhir. Orang yang suka membaca, tidak takut pada perbedaan sebab pribadi yang gemar membaca akan menemukan dunia lain dalam lembaran kertas.
    buku cerita (pixabay.com)
    “Saya rasa banyak orang kehilangan sensasi membaca, namun kalau kita jatuh cinta pada membaca, seperti orang jatuh cinta, dia akan melakukan apapun untuk menemukan kecintaan dan melakukan apapun untuk merawat cintanya. Karena kalau cinta tidak dirawat itu bisa diambil orang. Maka kita pun harus memperlakukan buku dengan seperti itu,” ungkap Najwa disambut riuh suara peserta Millenial Movement.

    Dia pun menjelaskan, terkait tiga isu penting di atas perlu menjadi perhatian generasi milenial. Najwa menilai, isu korupsi semakin hari terasa semakin umum. Kondisi ini bisa menjadi sangat berbahaya, karena korupsi menjadi isu yang terlalu sering.

    “Ketika anak muda melihat korupsi adalah hal yang biasa, dan tidak apa-apa, apalagi ratusan pejabat terkena, sudah masuk penjara pun tetap bisa hidup mewah, itu kondisi berbahaya,” kata Najwa.

    Dia juga menilai, kondisi toleransi di Indonesia semakin memprihatinkan seiring dengan banyaknya riset yang menyebut soal radikalisme telah menjangkit dari tingkat guru sampai anak SD. Misalnya saja, anak-anak SD mudah percaya bahwa mereka tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama.

    Baca juga: Hari Pahlawan 2018, Begini Gaya Jokowi Mengenang Para Pejuang

    “Anak-anak muda ini harus berani bersikap lewat proses yang matang, dan jangan mau dijadikan bala tantara, atau serdadu hanya untuk kelompok yang punya kepentingan tertentu. Kalian harus berani bersikap dan terlibat, bergabung lewat komunitas, lewat yayasan, dan banyak hal. Apalagi sekarang dengan teknologi semua dimungkinkan,” ungkap Najwa.

    Baca juga: Apa Ciri Pahlawan Masa Kini? Tilik Kata Maudy Ayunda


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon 'Hidup' Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.