Maulid Nabi 2018: 4 Makanan Sambut Perayaan Hari Lahir Muhammad

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panitia memasak Kuah Beulangong yang berisi daging dengan wajan besar di Meunasah Desa Gla, Krueng Barona, Aceh Besar, 26 Juni 2016. Kuah Beulangong yang dimasak di atas belanga atau wajan besar itu akan dibagikan pada warga untuk menu berbuka puasa. TEMPO/Adi Warsidi

    Panitia memasak Kuah Beulangong yang berisi daging dengan wajan besar di Meunasah Desa Gla, Krueng Barona, Aceh Besar, 26 Juni 2016. Kuah Beulangong yang dimasak di atas belanga atau wajan besar itu akan dibagikan pada warga untuk menu berbuka puasa. TEMPO/Adi Warsidi

    TEMPO.CO, Jakarta - Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini dilaksanakan pada Selasa, 20 November 2018. Hari lahir Rasulullah disambut baik oleh seluruh masyarakat muslim di Indonesia. Sambutan baik itu pun diwujudkan dalam makanan tradisional yang berbeda-beda di setiap daerah di Indonesia. Perbedaan jenis makanan pun disebabkan oleh perbedaan tradisi dan budaya dari masing-masing daerah.

    Baca: Maulid Nabi, Sandiaga Uno Ingatkan Jamaah Jangan Sebar Hoax

    Berikut adalah 4 makanan tradisional dalam menyambut perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

    1. Kuah Beulangong dari Aceh
    Kuah beulangong merupakan makanan berkuah sejenis kari dengan bahan utama daging sapi atau kambing yang diolah dengan bumbu rempah-rempah. Seperti yang dilansir dari antaranews, tokoh masyarakat di Aceh akan memasak kuah beulangong untuk dibagikan kepada warga pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain pada perayaan Maulid Nabi, tradisi memasak kuah belangong lazim dilaksanakan pada kenduri sawah (pesta panen), kenduri bulan Ramadan, pesta perkawinan, menjamu tamu agung serta hari besar Islam lainnya.

    2. Kue Walima dari Gorontalo
    Saat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, rakyat Gorontalo biasanya berbondong-bondong untuk menyaksikan parade kue walima. Ini merupakan susunan kue tradisional khas Gorontalo yang terdiri dari kolombengi, wapili, tutulu, telor ayam rebus dan ayam panggang. Biasanya, setelah diarak, warga akan saling berebutan untuk mendapatkan bagian. Konon bagi masyarakat Gorontalo, kue walima dipercaya dapat memberikan berkah karena terlebih dahulu didoakan semalam suntuk oleh para imam dan tokoh adat di masjid yang ada di wilayah tersebut.

    3. Telur Male dari Kendari
    Telur male memang layaknya telur rebus pada umumnya. Namun, ia biasanya digantung di batang pisang dan dihiasi dengan aksesoris berwarna-warni yang bernuansa Islam. Selain sebagai pajangan wajib saat perayaan Maulid Nabi, male juga diperlombakan. Menurut masyarakat Kendari, telur menggambarkan Nabi sebagai individu yang mandiri. Layaknya telur yang jika menetas menjadi ayam, ia akan mencari makan sendiri. Telur male juga menjadi rebutan di kalangan masyarakat oleh karena kepercayaan atas berkah dari telur yang menggambarkan Nabi tersebut.

    Baca: Perayaan Maulid Nabi, Istana Bogor Undang Anak Yatim Piatu

    4. Ampyang Maulid dari Kudus
    Tradisi ampyang biasa dikenal oleh warga Kudus, Jawa Tengah sebagai tradisi yang memperingati hari kelahiran Rasul utusan Allah dengan menyajikan makanan yang dihiasi dengan ampyang atau kerupuk yang diarak keliling desa. Ini dilakukan agar warga introspeksi diri dan berperilaku sesuai dengan sifat nabi. Arak biasanya akan disertai dengan drum band, musik rebana, bedug raksasa dan miniatur Menara Kudus. Setelah sampai di pemberhentian terakhir atau masjid terdekat, makanan yang diarak akan didoakan oleh ulama setempat sebelum dibagikan kepada warga dengan tujuan berkah.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA | CHRISTOPEL PAINO | ANTARANEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.