12 Jam Genting dalam Menangani Pasien Serangan Jantung Akut

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi serangan jantung (pixabay.com)

    Ilustrasi serangan jantung (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyakit jantung koroner (PJK) dinilai sebagai penyebab kematian terbesar di dunia, untuk itu, penanangan darurat pada pasien serangan jantung akut sangat penting guna mencegah kematian, terutama 12 jam setelah terjadinya serangan.

    Baca: Awas, Tidur Terlalu Lama Berisiko Sakit Jantung dan Kematian

    Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Jantung Diagram Siloam Hospitals Group, Barri Fahmi, mengatakan serangan jantung dapat dikenali dari gejala yang khas. Menurutnya, ada tiga ciri khas gejala tersebut, yakni sifat rasa nyerinya seperti ditekan, ditindih atau rasa seperti dihantam benda tumpul. “Bukan seperti ditusuk-tusuk atau disayat. Serta, durasi nyeri pun berlangsung selama 15 menit hingga 20 menit,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Ahad 9 Desember 2018.

    Kedua, pencetusnya diantaranya adalah stres emosional atau kelelahan fisik. Namun, serangan jantung kerap tidak menunjukkan gejala khas pada beberapa orang, terutama pada perempuan, usia lanjut, dan penderita diabetes. Hal itu disebabkan adanya neuropati diabetik yang dapat merusak saraf mengatur kerja jantung. "Tak heran apabila serangan jantung pada penderita diabetes disebut dengan serangan silent,” lanjutnya.

    Untuk lebih mengidentifikasi terjadinya serangan jantung, diperlukan pula hasil pola gambaran elektrokardiografi (EKG) yang jelas, hasil laboratorium seperti enzim jantung yang spesifik, serta pemeriksaan lain yang menunjang (ekokardiografi dan atau kateterisasi jantung).

    Serangan jantung disebabkan oleh mendadak hilangnya aliran darah ke pembuluh darah jantung, dikenal juga dengan nama pembuluh darah koroner, karena terjadi mendadak dan menyebabkan kerusakan yang dahsyat pada otot jantung. “Maka diperlukan tindakan segera untuk membuka sumbatan pada pembuluh darah koroner. Tindakan tersebut dikenal dengan nama Primary Percutaneous Coronary Intervention atau PPCI," katanya.

    Menurut Barri, PPCI adalah tindakan minimal invasif yang harus dilakukan segera dalam waktu kurang dari 12 jam sejak terjadinya serangan jantung. Tindakan ini dilakukan di ruang kateterisasi oleh dokter jantung konsultan intervensi dan didukung oleh tim perawat yang berpengalaman.

    PPCI menggunakan bius lokal dan biasanya dilakukan melalui pembuluh darah di pergelangan tangan atau paha. Pasien sadar penuh selama prosedur dan bisa berkomunikasi dengan dokter setiap saat. Segera setelah ditemukan adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner, dokter akan memasang stent atau ring. "Durasi dari tindakan ini berkisar 1 jam hingga 2 jam, tergantung dari beratnya sumbatan yang ditemukan. Setelah dilakukan pemasangan stent atau ring, pasien akan dirawat di ruang Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) untuk pemantauan lebih lanjut. Jika tidak ada penyulit atau komplikasi biasanya pasien bisa pulang dalam waktu empat hingga lima hari," ujar Barri.

    Baca: Meski Ringan, Aktivitas Ini Bisa Turunkan Risiko Penyakit Jantung

    Pada, Rabu 5 Desember 2018 lalu Rumah Sakit Jantung Diagram (Siloam Hospitals Group) Cinere, Depok memperkenalkan tindakan Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI) sebagai tindakan membuka sumbatan pada pembuluh darah koroner. Sementara Jeffrey Wirianta, selaku Interventional Cardiologist mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi sebagai upaya untuk melayani pelayanan BPJS terhadap penyakit jantung di antaranya di komunitas, perkumpulan olahraga, hingga perkumpulan lansia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.