Waspada Baby Blues Syndrome, Bagaimana Pria Terkena Efeknya?

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi tidur (pixabay.com)

    ilustrasi tidur (pixabay.com)

    TEMPO.CO, JakartaBaby Blues Syndrome adalah sekumpulan gejala terkait dengan suasana perasaan yang depresif yang terjadi pada hari pertama sampai hari ke empat belas pasca persalinan yang terjadi pada ibu. Demikian ditulis Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, Andri, dalam Psikomatik.net 9 Desember 2018. 

    Baca juga: Jangan Remehkan Baby Blues, Ibu Bisa Bunuh Diri

    Disebutkan juga beberapa gejala yang muncul antara lain adalah mudah menangis, tidak tertarik kepada kegiatan, mudah lupa, cemas dan gelisah, mudah marah, lelah, sensitif, hilang harapan, tidak merasa bahagia, sampai tidak percaya diri.

    Mungkinkah Baby Blues Syndrome ini dialami juga oleh pria? Andri menyebutkan bahwa dalam prakteknya sehari-hari, ditemukan seorang suami dari seorang ibu yang mengalami baby blues syndrome seringkali kesulitan beradaptasi dengan perilaku si ibu yang sensitif, marah-marah, dan sulit mendengar saran dari sekitarnya, itu.

    Terbaik adalah seorang suami bisa memahami kondisi Baby Blues Syndrome itu. Karena, lanjut Andri, jika suami tak memahami kondisi istrinya tersebut, bukan tidak mungkin sindrom yang hanya terjadi pada wanita itu juga bisa mempengaruhi suaminya.
    Ilustrasi ibu dan bayi. Shutterstock
    “Jadi dukungan dari seorang suami saat istrinya mengalami sindroma tersebut sangat penting,” ujar Andri kepada TEMPO.CO , Selasa 11 Desember 2018.

    Dokter yang berpraktek di Klinik Psikomatik Omni Hospital Alam Sutera, ini pun dalam artikelnya yang berjudul ‘Kenali Baby Blues Syndrome, Cegah Depresi Pasca Melahirkan’, itu menulis dua penyebab terjadinya BBS ini. Pertama adalah faktor psikososial seperti konflik berkepanjangan dalam perkawinan, suasana perasaan suami istri yang tidak stabil, melahirkan di usia tua untuk perempuan melahirkan (di atas 35 tahun).

    Dan penyebab kedua adalah faktor biologis. Contohnya penurunan estrogen dan progesteron, hormon dan zat kimiawi otak yang berperan : cortisol, thyroxin, serotonin, norepinephrin dan dopamine.

    Disebutkan juga bahwa baby blues syndrome perlu dikenali karena membuat kualitas kehidupan ibu dan anak menjadi buruk. Ibu menjadi kesulitan atau tidak mampu mengurus anak. Kondisi Baby Blues Syndrome juga bisa berlanjut ke depresi pasca melahirkan jika dua minggu tidak membaik.

    “Pada kondisi yang berat sering kali ditemukan adanya pikiran bunuh diri sampai upaya melakukan upaya bunuh diri dan membunuh anaknya,” tulisnya lagi.

    Bagaimana menghadapi kondisi tersebut? Andri sekali lagi menyebutkan bahwa peran keluarga apalagi suami adalah sangat penting. “Sarankan ibu untuk banyak beristirahat dan tidak melakukan aktifitas yang membuat stres. Sering kali yang dialami ibu pasca melahirkan adalah kesulitan tidur karena harus menjaga dan menyusui anak secara rutin,” ujarnya.

    Jika dalam waktu dua minggu sejak pasca melahirkan kondisi baby blues syndrome ibu tidak membaik, sebaiknya konsultasikan ke psikiater untuk mendapatkan konseling dan atau pengobatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.