Waspada, Rabies Sulit Terdeteksi Melalui Pemeriksaan Darah

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Kelurahan Mangga Dua Selatan memberikan vaksin rabies kepada hewan peliharaan di Perkampungan Mangga Dua Selatan Rt 03 / Rw 07, Jakarta Pusat, Selasa, 8 Januari 2019. Sosialisasi dan pemberian vaksinasi tentang komunikasi informasi dan edukasi tentang rabies diselenggarakan serentak di lima wilayah Jakarta. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Petugas Kelurahan Mangga Dua Selatan memberikan vaksin rabies kepada hewan peliharaan di Perkampungan Mangga Dua Selatan Rt 03 / Rw 07, Jakarta Pusat, Selasa, 8 Januari 2019. Sosialisasi dan pemberian vaksinasi tentang komunikasi informasi dan edukasi tentang rabies diselenggarakan serentak di lima wilayah Jakarta. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyakit rabies menyerang sistem saraf pada manusia dan hewan berdarah panas seperti anjing, kucing, dan kera. Hal itu disebabkan oleh virus rabies. Virus ditularkan melalui air liur hewan penderita rabies melalui gigitan atau luka terbuka.

    Baca: Jakarta Kewalahan, Populasi Kucing 30 Ribu Ekor Tahun Ini

    Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Siti Nadia Tarmizi, mengatakan virus rabies sulit dideteksi melalui pemeriksaan darah. Karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari gigitan hewan pembawa rabies.

    “Masyarakat harus waspada terhadap gigitan anjing gila karena virus rabies yang ditularkan berjalan melalui sistem saraf, sehingga tidak terdeteksi melalui pemeriksaan darah. Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa mendiagnosa dini sebelum muncul gejala klinis rabies,” katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada Selasa, 5 Maret 2019 di Jakarta.

    Gejala klinis akan muncul setelah virus rabies mencapai susunan saraf pusat dan menginfeksi seluruh neuron terutama di sel-sel limbik, hipotalamus dan batang otak. Penyakit rabies bersifat fatal.  Nadia menambahkan apabila seseorang menderita rabies telah menunjukan tanda klinis, seperti gejala radang otak akut (encephalitis) yang diikuti hiperaktivitas, kejang, atau kelumpuhan (paresis/paralisis), dan terjadi koma. Orang yang terkena rabies ini biasanya meninggal karena gagal pernafasan pada hari ke 7 – 10 sejak timbul gejala pertama (onset).

    Dokter hewan dari Humane Society International (HSI) menyuntik anti rabies ke anjing peliharaan serta anjing dan kucing liar di komunitas tempat pembuangan sampah di kota Quezon, Filipina, 26 September 2017. AP/Bullit Marquez

    Sementara itu, tanda rabies pada hewan sangat bervariasi, antara lain adanya perubahan tingkah laku seperti mencari tempat yang dingin dan menyendiri, agresif atau menggigit benda-benda yang bergerak termasuk terhadap pemilik. Hewan juga akan mengalami pica atau memakan benda-benda yang tidak seharusnya menjadi makanannya.  Hewan juga akan mengalami  hiperseksual, mengeluarkan air liur berlebihan, inkoordinasi, kejang-kejang, paralisis atau lumpuh dan akan mati dalam waktu 14 hari. Namun umumnya mati pada 2-5 hari setelah tanda-tanda tersebut terlihat.

    “Kasus rabies selalu berakhir dengan kematian baik pada hewan maupun manusia. Kondisi ini mengakibatkan timbulnya rasa takut dan kekhawatiran serta keresahan bagi masyarakat,” kata Nadia

    Nadia menegaskan masyarakat juga harus mengetahui cara penularan rabies. Ia menjelaskan rabies ditularkan melalui gigitan dan non gigitan. Non gigitan bisa berupa goresan, cakaran dan jilatan pada kulit terbuka atau mukosa  oleh hewan yang terinfeksi virus rabies.

    Baca: Hari Rabies Sedunia, Kenali dan Hindari Penyakit Ini

    Virus rabies akan masuk ke dalam tubuh hewan dan manusia melalui kulit yang terbuka atau mukosa namun tidak dapat masuk melalui kulit yang utuh. Kemudian virus rabies bereplikasi dan menjalar dari susunan syaraf perifer ke susunan syaraf pusat. “Di sinilah pentingnya kewaspadaan kita terhadap anjing rabies atau hewan lain pembawa rabies. Karena rabies berdampak fatal pada manusia,” kata Nadia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.