Anak dari Keluarga Perokok Berisiko Kurang Gizi, Apa Sebabnya?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak dengan stunting. nyt.com

    Ilustrasi anak dengan stunting. nyt.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Rokok sering dikaitkan dengan anak kurang gizi. Bukan hanya karena asap rokok yang meningkatkan risiko anak sakilt, tapi juga tingginya pengeluaran untuk rokok ketimbang membeli makanan bergizi.

    Baca juga: Asap Rokok Bisa Akibatkan Alergi Anak, Cegah dengan 3 Hal Ini

    Peneliti utama dari organisasi bidang pangan dan gizi kerja sama menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara atau Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) Umi Fahmida mengatakan pengeluaran untuk rokok setara dengan belanja sayur-mayur, telur, dan susu.

    "Belanja rokok di Indonesia menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam rumah tangga (12,4 persen dari pengeluaran rumah tangga). Ini setara dengan dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli sayur-mayur (8,1 persen) serta telur dan susu (4,3 persen)," ujar dia dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019.

    Jika pengeluaran rokok 12,4 persen itu disisihkan, kata dia, akan berkontribusi untuk keragaman pangan yang bermanfaat bagi peningkatan gizi anak.

    "Uang itu bisa dibelikan sesuatu yang berguna, mungkin dibelikan telur, ikan, sayur, dan buah. Tentu sangat penting bagi kecerdasan dan kesehatan anak," kata dia.

    Berdasarkan hasil analisis data Indonesian Family Life Survey (IFLS), kemungkinan anak dari keluarga perokok mengalami kekerdilan lebih besar daripada anak dari keluarga tanpa perokok.

    Selain itu, berdasarkan studi dari Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia, anak-anak dari keluarga perokok kronis memiliki kecenderungan untuk tumbuh lebih pendek dan lebih ringan dibandingkan dengan anak dari keluarga tanpa perokok.

    Umi menjelaskan persoalan kekerdilan bisa dilihat dari tiga hal, pertama, yang langsung itu karena asupan gizi anak jelek atau kurang, kedua, dipengaruhi oleh seringnya anak sakit sehingga penyerapan zat gizi tidak optimal dan ketiga, adalah pengaruh pola pengasuhan keluarga. "Keluarga ini bukan cuma ibu. Tetapi juga bapaknya“, ujar Umi.

    Baca juga: Asap Rokok Meningkatkan Risiko Kematian Bayi, Ini Faktanya

    Faktor keluarga, kata dia, berpengaruh cukup besar, namun ada faktor-faktor lain di tingkat komunitas, antara lain akses pelayanan kesehatan, kesehatan lingkungan, dan ketersediaan pangan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.