Minggu, 15 September 2019

Pasien Kanker Tunda Kemoterapi karena Bajakah, Begini Kata Pakar

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua orang siswa asal SMAN 2 Palangkaraya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani, berhasil menemukan obat kanker dari tumbuhan kayu bajakah tunggal asal Kalimantan Tengah. Kredit: Tempo/Karana WW

    Dua orang siswa asal SMAN 2 Palangkaraya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani, berhasil menemukan obat kanker dari tumbuhan kayu bajakah tunggal asal Kalimantan Tengah. Kredit: Tempo/Karana WW

    TEMPO.CO, Jakarta - Akar bajakah yang disebut ampuh untuk menyembuhkan kanker sedang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Indonesia. Apalagi setelah presentasi dua siswi SMA Negeri 2 Palangka Raya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharan, dalam ajang World Invention Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, dan berhasil membawa pulang medali emas.

    Spesialis gastroenterologi dan dekan FKUI, Ari Fahrial Syam, lantas mengapresiasi hal ini. Meski demikian, kecenderungan masyarakat untuk langsung mempercayainya sangat disayangkan sebab penelitian lebih lanjut tetap harus dilakukan sebagai bentuk pembuktian. 

    “Saya sangat mengapresiasi apa yang ditemukan kedua siswa ini. Tapi penelitian lebih lanjut harus dilakukan. Karena ini baru diuji pada binatang atau praklinik. Mahasiswa S3 saya saja membutuhkan waktu empat tahun sampai benar-benar berhasil,” katanya saat ditemui dalam acara Media Gathering kedokteRAN 2019 di Jakarta pada 21 Agustus 2019.

    Beberapa aksi dari pasien kanker yang salah kaprah akibat penemuan ini pun berupa penundaan jadwal kemoterapi dan operasi. Meski hal ini tidak dialami langsung, tapi dari beberapa rekan dokter, Ari pun sangat prihatin karena hal ini akan sangat membahayakan pasien. 

    “Untuk mereka yang berada pada stadium tiga dan empat, kalau menunda kemoterapi dan operasi karena obat herbal yang belum jelas ini, akan mengakibatkan risiko kematian yang lebih tinggi karena sel-sel kanker akan bermetastase (menyebar) lebih cepat setelah melewatkan rangkaian pengobatan pasti dari ahli,” katanya.

    Oleh karena itu, Ari pun menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menyerap informasi. Walaupun memang benar, mengikuti apa yang disarankan dokter dan ahli adalah hal utama. Berhubungan dengan obat herbal pula, menjadikannya bahan sampingan juga harus dilakukan.

    “Mau herbal tidak apa, tapi mendengarkan dokter dengan segala perawatannya adalah suatu hal yang paling utama. Apalagi rekan saya yang ahli herbal juga mengatakan bahwa ada jenis akar bajakah yang berbahaya. Ini menjadi hal yang patut diwaspadai juga kan?” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.