Kebutuhan Ahli Teknologi Informasi Banyak, Tawaran Gaji Pun Wow

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mencetak Programmer Berkualitas

    Mencetak Programmer Berkualitas

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebutuhan tenaga kerja bidang teknologi informasi dan dunia digital sangat tinggi. Airlangga Hartarto - ketika menjabat sebagai Menteri Perindustrian-pernah menyatakan, sampai 2030, Indonesia membutuhkan 17 juta pekerja di bidang ekonomi digital. Dari jumlah itu, sebanyak 4 persen akan bekerja di sektor manufaktur dan sisanya di jasa industri.

    Ekonomi digital memang terus tumbuh. Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi, Rosarita Niken Widiastuti, pendapatan ekonomi digital pada 2018 sebesar US$ 27 miliar. "Pada 2019 ini diperkirakan jadi US$ 40 miliar atau setara Rp 566 triliun," kata Niken dalam acara "Connect" di Jakarta, Rabu lalu.

    Masalahnya, jumlah tenaga kerja di bidang ini masih cukup terbatas. Karena itu, upaya-upaya untuk menambah jumlah pekerja terampil dunia digital menjadi mendesak. Selain dipasok oleh lembaga pendidikan formal, mereka berasal dari kursus-kursus atau pelatihan informal. Lembaga-lembaga pendidikan formal maupun informal terus bermunculan untuk mencetak calon-calon pekerja di bidang teknologi informasi dan digital.

    Siswa mengerjakan tutorial coding bertema Minecraft yang dikembangkan Microsoft dan Code.org. Foto: Microsoft

    Adanya gap antara permintaan dan penawaran tenaga kerja di bidang TI membuat tenaga kerja ini memiliki penghasilan tinggi. Hal tersebut bisa dilihat dari laporan Kelly Indonesia berjudul "2019 Indonesia Salary Guide". Lembaga konsultan rekrutmen dan personalia terkemuka ini mensurvei gaji karyawan dari berbagai kualifikasi dan posisi.

    Mereka juga merilis kategori yang dinamai Hot Job, pekerjaan yang banyak dicari oleh perusahaan dan banyak pula peminatnya. Dari 82 Hot Job, setidaknya 20 persen di antaranya berasal dari bidang teknologi informasi. Beberapa di antaranya memiliki gaji yang fantastis. Misalnya, posisi IT director di sektor layanan kesehatan ditaksir memiliki gaji berkisar Rp 80-110 juta per bulan dan seorang software developer yang bekerja di industri TI memiliki penghasilan berkisar Rp 15-40 juta per bulan.

    Chief Executive Officer Dicoding, Narenda Wicaksono, menuturkan banyak pekerja yang secara kemampuan belum layak mendapat gaji besar. Namun, karena kebutuhan industri, ia pun mendapat pendapatan fantastis. Sebetulnya, hal itu merusak tatanan industri. Sebab, tidak semua industri bisa memberi benefit yang sama. Terlebih melihat siklus para pekerja saat ini yang hanya bertahan di satu perusahaan selama 3-4 tahun. "Ketika pindah kerja ke industri lain, kan tidak semua industri bisa gaji dia sebesar itu," ujarnya.

    Founder Alkademi, Dyan Raditya Helmi, mengatakan industri bidang software atau hardware TI memang menjadi peluang besar yang harus diambil pegiat TI. Karena itu, ia tidak setuju bila dikatakan dunia digital menghilangkan banyak pekerjaan. Memang ada pekerjaan yang kemudian dikerjakan mesin, tapi sekaligus melahirkan banyak pekerjaan baru. Ia mengilustrasikan pekerjaan teller bank yang berkurang karena ada ATM. "Tapi ada pekerjaan baru yang mengurusi jaringannya, Internet-nya."

    AMINUDDIN A.S. | DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.