Jangan Sembarangan Beri Antibiotik pada Anak, Dampaknya Ini

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak sakit. shutterstock.com

    Ilustrasi anak sakit. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta -  Orang tua pasti akan sangat cemas ketika anak mengalami flu dan demam. Sebagai jalan pintas, tak sedikit orang tua yang memberikan antibiotik. Padahal, antibiotik bukanlah obat yang tepat untuk menangkal flu.

    Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Bambang Supriyanto mengatakan bahwa anak bisa sembuh dengan sendirinya. “Cukup bersabar saja, imunitas tubuh akan bekerja dan anak bisa sembuh,” katanya dalam acara Media Briefing di Jakarta pada Rabu, 19 Februari 2020.

    Antibiotik memang diperlukan apabila flu dan demam diikuti dengan indikasi lainnya seperti suhu tubuh di atas 38,5 derajat selsius, ada benjolan di leher, ada bintik-bintik putih menyerupai nanah pada leher, flu dan demam namun tidak disertai batuk, serta berusia tiga sampai 14 tahun. “Setidaknya harus ada empat dari indikasi yang muncul baru boleh minum antibiotik,” katanya.

    Lalu, bagaimana jika anak minum antibiotik setiap flu dan demam padahal tidak dibutuhkan? Dua dampak pun bisa dialami anak. Bambang menjelaskan bahwa yang pertama adalah resistensi antibiotik. “Ini adalah kondisi saat anak membutuhkan antibiotik dan minum obat, tidak mempan karena virus dan bakterinya sudah kebal,” katanya.

    Dampak berikutnya adalah risiko asma. Menurut Bambang, anak yang memiliki bakat asma sejak kecil dan sering minum antibiotik memiliki risiko besar untuk benar-benar mengalami masalah pernapasan itu. Tak heran, ia pun mengimbau agar orang tua tidak mudah memberi antibiotik pada anak. “Sesuai dengan indikasi dan tidak berlebihan, itu yang terpenting agar jauh dari dampak buruknya,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.