Tidak Mandi Tak Masalah, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mandi. ewater.com

    Ilustrasi mandi. ewater.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Mandi memang menyenangkan buat banyak orang. Tetapi, bagi sebagian orang lain, mandi bagaikan sebuah beban. Banyak yang dibesarkan dengan ritual mandi sehari-hari, yaitu dua kali dalam sehari, yang terdiri dari menyikat gigi, membersihkan tubuh, dengan sabun, dan keramas.

    Meskipun mandi penting untuk menjaga kebersihan, sebenarnya ada saat-saat ketika Anda dapat melewatkan mandi, dan itu justru malah membuat kondisi kulit jadi lebih baik. Mandi setiap hari dapat mengeringkan kulit dan membunuh jenis bakteri baik yang bisa membuat kulit dan tubuh menjadi sehat.

    "Kulit memiliki banyak bakteri baik, dan banyak di antaranya merupakan bakteri pelindung yang membantu mencegah infeksi kulit," kata Dr. Jill Waibel, pemilik Miami Dermatology dan Laser Institute, dikutip dari Bustle.

    "Ketika mandi, Anda tidak hanya membersihkan kotoran tetapi juga mengganggu keseimbangan mikroba. Menggunakan sabun antimikroba dapat memusnahkan bakteri ini, yang dapat berakibat terjadinya infeksi kulit. Mandi secara berlebihan dapat mempengaruhi keseimbangan ini," tambahnya.

    Namun, jika tubuh berkeringat setelah berolahraga atau terkena debu atau kotoran, Anda harus mandi demi kesehatan tubuh. Berikut tujuh saat Anda tidak perlu mandi.

    Udara dingin
    Saat udara dingin, Anda memang bisa mandi air hangat sebagai solusi. Namun, perlu diketahui, "Mandi menggunakan air hangat dapat menyebabkan kulit kering, karena kehilangan kelembapan yang terkikis oleh air hangat dan sabun," kata Waibel.

    Jika benar-benar harus mandi dengan air hangat, dianjurkan untuk tidak berlama-lama (cukup 10 menit), atau atur temperatur air hangat menjadi hangat kuku, dan gunakan pelembab kulit setelah mandi.

    Setelah menggunakan self-tanner
    Alasan kecantikan juga bisa membuat terpaksa tidak mandi, terutama setelah menggunakan self-tanner. "Itu agar self-tanner bisa bekerja maksimal pada kulit," kata Waibel. "Mencuci terlalu cepat setelah menggunakan self-tanner dapat menghapus DHA."

    Menderita eksim
    "Lebih baik untuk orang-orang dengan dermatitis atopik (eksim) untuk menghindari mandi air hangat yang terlalu sering dan lama," kata dokter kulit Shari Lipner MD, PhD. "Mandi air hangat akan membuat kulit sensitif menjadi lebih kering dan lebih rentan terhadap infeksi."

    Setelah operasi
    "Seringkali, dokter mengingatkan agar perban penutup luka operasi tidak basah terkena air," kata Lipner. "Akan lebih bijaksana untuk melewatkan kegiatan mandi dalam situasi ini."

    Tidak berkeringat
    Jika Anda tidak berkeringat dan tidak bau badan, maka tidak perlu mandi. "Tidak mengapa melewatkan mandi sesekali," kata Lipner. Selama selalu mencuci tangan untuk menyingkirkan kuman, Anda bisa menunggu mandi sampai besok.

    Kulit sangat kering
    Jika kulit ekstrakering, sebaiknya kurangi frekuensi mandi dengan air hangat. "Mandi air hangat terlalu sering dan lama akan semakin mengeringkan kulit," kata Lipner.

    Rambut kering
    Keramas dengan menggunakan terlalu banyak air hangat dan sampo bisa membuat rambut kering dan rapuh, dan menggosok handuk di rambut juga dapat menyebabkan kerusakan. Tidak ada aturan yang sempurna untuk menentukan kapan harus mandi, tetapi memperhatikan tubuh dan memutuskan apakah perlu mandi atau tidak, tampaknya perlu didasarkan pada apa yang dirasakan saat itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.