Corona, Dokter Ingatkan Jangan Terlambat Jalani Hidup Sehat

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Gaya Hidup Sehat Pria. probioticshub.com

    Ilustrasi Gaya Hidup Sehat Pria. probioticshub.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokter spesialis penyakit dalam Eka Ginanjar mengingatkan masyarakat mengurangi asupan tidak sehat saat pandemi COVID-19, seperti merokok serta mengonsumsi pangan mengandung gula, garam dan lemak berlebih. "Maka, jangan sampai terlambat menerapkan hidup sehat untuk mencegah faktor risiko," kata Eka Ginanjar dalam jumpa pers daring di Jakarta, Sabtu 4 Juli 2020.

    Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) itu mengatakan di masa sebelum pandemi COVID-19, masyarakat yang tidak menerapkan pola hidup sehat sudah sangat banyak dan mereka adalah golongan rentan terkena penyakit tidak menular.

    Semasa pandemi seperti saat ini, kata dia, persoalan asupan harus menjadi perhatian agar sehat serta seimbang terlebih banyak masyarakat yang juga memiliki kebiasaan merokok. Tubuh yang kurang sehat, lanjut dia, tentu sangat mudah terinfeksi berbagai penyakit menular termasuk COVID-19. "Merokok ini menjadi masalah dengan para perokok adalah golongan yang muda dan tidak pandang gender. Padahal merokok efeknya itu memang tidak langsung fatal. Perokok akan menumpuk racun dan penyakit dan baru menerima dampaknya setelah kebiasaan 15-20 tahun," kata dia.

    Dia mengatakan banyak pasien yang datang ke dokter penyakit dalam ketika dada sakit, nyeri atau gangguan kesehatan lain akibat pola hidup tidak sehat. Mereka, kata dia, banyak yang baru berhenti merokok ketika mengalami gangguan kesehatan. Padahal sejatinya penyakit yang mereka keluhkan itu buah dari kebiasaan buruknya selama bertahun-tahun.

    Sementara dikaitkan dengan pandemi, lanjut dia, orang dengan gangguan penyakit tidak menular karena asupan yang tidak sehat itu adalah kalangan rentan. Alasannya, kata Eka, selain kekebalannya tidak begitu baik tetapi juga struktur jaringan tubuhnya mengalami gangguan fungsi akibat asupan tidak sehat seperti kebiasaan merokok serta asupan berlebih dari gula, garam dan lemak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.