Heboh Kalung Antivirus, Ahli Beri Tips agar Komunikasi Sains Baik

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kementerian Pertanian meluncurkan inovasi rangkaian produk antivirus berbahan eukaliptus yang dinilai mampu menangkal penyebaran virus corona. Kredit: Kementerian Pertanian/Antara

    Kementerian Pertanian meluncurkan inovasi rangkaian produk antivirus berbahan eukaliptus yang dinilai mampu menangkal penyebaran virus corona. Kredit: Kementerian Pertanian/Antara

    TEMPO.CO, Jakarta - Baru-baru ini, pemerintah berencana untuk memproduksi kalung antivirus secara massal. Melalui sebuah video konferensi, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan bahwa penggunaan eukaliptus sebagai bahan utama kalung tersebut memang diklaim ampuh mematikan virus corona. “Kami yakin bulan depan (Agustus) bisa dicetak massal. Jika kalung ini dipakai 15 menit, keberadaannya bisa melumpuhkan 42 persen virus corona. Sedangkan bila dikenakan lebih lama, yakni 30 menit, kalung bisa mematikan 80 persen virus corona dalam tubuh,” katanya dalam Youtube Kementerian Pertanian pada Jumat, 3 Juli 2020.

    Banyaj masyarakat yang amat terkejut dengan penyataan menteri itu. Tidak jarang beberapa dari mereka justru menjadi lengah dalam menerapkan protokol kesehatan Covid-19 lantaran nantinya bisa diganti dengan kalung antivirus produksi pemerintah.

    Menanggapi kehebohan masyarakat terkait pernyataan Menteri Syahrul Yasin Limpo, Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia sekaligus Dosen di departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor (IPB) Berry Juliandi pun angkat bicara. Menurutnya, apa yang disampaikan Menteri Pertanian benar, namun sayangnya cara berkomunikasinya buruk sehingga menggiring berbagai opini publik.

    Berkaca dari kesalahan tersebut, ia pun membagikan tipsnya berkomunikasi sains dengan baik. “Saat pandemi ini, sains banyak bermunculan. Jadi kita harus mulai tahu bagaimana cara benar menyampaikan sains agar komunikasi sains tidak buruk dan menyebabkan kegaduhan di antara masyarakat,” katanya dalam Kelas Umum Pandemi bersama Lapor Covid-19 pada 10 Juli 2020.

    Lalu, apa saja yang bisa dilakukan? Pertama menurut Berry, setiap orang yang akan berbicara tentang sains wajib mempertimbangkan siapa khalayak target mereka. Sebab ketika berbicara di depan umum, harus dipikirkan bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan pemahaman yang berbeda tentang sains.

    “Kita ambil contoh kalung antivirus. Ketika dikatakan ini kalung antivirus bisa membunuh corona, walaupun kalimat itu tidak salah karena memang benar bisa membunuh corona, namun kalimat itu bisa disalahartikan oleh masyarakat yang menajdi target pendengar. Di luar kalangan peneliti, akan berpikir tentang corona SARS-CoV-2. Padahal yang benar alphacorona, beta corona sehingga harus hati-hati, jangan disederhanakan dan lebih ditegaskan dalam mengkomunikasikan ke khalayak,” katanya.

    Selanjutnya, penting pula menggarisbawahi pesan yang ingin disampaikan. Berry menjelaskan bahwa tidak penting menyampaikan semua ilmu kepada khalayak, namun yang diperlukan adalah apa kunci dari komunikasi sains tersebut.

    Dari pernyataan Menteri Pertanian, Berry berpendapat bahwa pemerintah ingin menyampaikan prestasi dengan adanya terobosan. "Terobosan bahwa kita sudah ada di depan. Padahal penelitian ini belum hasil akhir dan masih banyak tahap yang belum dilakukan sehingga pesan tidak tersampaikan dengan baik. Harus ada perubahan seperti ‘siapa yang memiliki kemampuan, coba selesaikan bersama hingga tahap akhir’. Ini pesannya sampai dan lebih elegan,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.