Saran Dokter buat Penderita Penyakit Jantung yang Ingin Bersepeda

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bersepeda di masa pandemi.

    Ilustrasi bersepeda di masa pandemi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Penderita penyakit jantung boleh bersepeda rutin demi menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Namun, sebelum melakukannya, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A. Damay, menganjurkan periksakan dulu kondisi jantung, misalnya melalui tes EKG atau treadmill untuk mengetahui batas kemampuan diri.

    "Semangat, ingat tujuannya cari sehat bukan cari penyakit. Cek kondisi jantung dulu, mungkin echocardiography atau treadmill excercise test. Orang yang suka berolahraga bisa mempersiapkan jantung mereka, periksa jantungnya," ujarnya.

    Selanjutnya, mulailah secara bertahap lalu sesuaikan durasi dan frekuensinya dengan hasil tes dan kondisi tubuh. Selain itu, jika ternyata memerlukan obat, maka minumlah atas rekomendasi dokter.

    "Seperti kendaraan ada perawatan, jantung juga apabila perlu obat ya diminum," kata Vito.

    Bersepeda sendiri menjadi salah satu olahraga yang bisa dilakukan semua orang untuk mengurangi risiko terkena penyakit jantung. Olahraga ini juga disarankan untuk yang memiliki masalah kelebihan berat badan sehingga sulit, bahkan untuk sekedar berjalan atau berlari.

    Di masa pandemi COVID-19, saat bersepeda disarankan menerapkan protokol kesehatan, antara lain menjaga jarak dengan pesepeda dan orang lain, mengenakan masker, dan mencuci tangan sebelum dan usai memegang sesuatu, terutama jika itu barang publik.

    Vito mengatakan orang dengan penyakit jantung sekalipun namun rajin berolahraga cenderung akan lebih tertolong kala terjadi masalah pada jantungnya dibanding mereka yang tak pernah berolahraga.

    "Ini karena jika ada penyumbatan di pembuluh darah jantung, misalnya orang yang rajin berolahraga, terutama yang tipe aerobik, maka dia punya jalan tikus banyak, namanya pembuluh darah kolateral," jelasnya.

    Pembuluh darah kolateral yang berukuran tipis ini bisa membantu mengaliri darah ke otot-otot jantung, terutama saat ada penyumbatan di salah satu jalur aliran. Inilah yang membuat peluang kelangsungan hidup mereka yang rajin berolahraga lebih tinggi.

    "Jadi, kalau misalkan jalan rayanya tersumbat, maka rambut-rambut atau jalan tikus ini masih bisa sedikit membantu, sehingga kemungkinan survival-nya lebih tinggi dibandingkan jika tidak pernah berolahraga, yang tersumbat satu, tersumbat semua. Makanya risiko meninggalnya lebih tinggi," papar Vito.

    Di sisi lain, sebaiknya jagalah asupan makanan sehat agar kolesterol jahat tak sampai di atas optimal dan berujung serangan jantung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Belajar dari Lonjakan Kasus Covid-19 Pada Liburan Lalu

    Tak hendak mengulang lonjakan penambahan kasus Covid-19 akibat liburan 28 Oktober 2020 mendatang, pemerintah menerapkan beberapa strategi.