Waspada, Anak dengan Alergi Berpotensi Kekurangan Nutrisi untuk Tumbuh Kembang

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak alergi susu sapi/Sarihusada

    Ilustrasi anak alergi susu sapi/Sarihusada

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsultan Alergi dan Imunologi Anak, Dokter Spesialis Anak Budi Setiabudiawan mengatakan alergi menjadi salah masalah yang bisa berdampak buruk pada kesehatan, khususnya tumbuh kembang anak. "Anak yang alergi, khususnya alergi susu sapi, bisa berdampak malnutrisi pada anak," katanya pada peluncuran SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx dan Program Festival Soya Generasi Maju untuk Dukung si Kecil yang Tidak Cocok Susu Sapi Tumbuh Maksimal pada akhir Maret 2021.

    Budi mengatakan anak yang mengalami alergi, akan mengurangi konsumsi makanan mereka. Akibatnya diet makan mereka jadi buruk. "Anak akan susah makan, sehingga malnutrisi dan asupan untuk pertumbuhan mereka akan terhambat," kata Budi.

    Alergi pada anak tidak bisa dianggap sepele. Pada 2013, World Alergy Organization menyebutkan ada 30 - 40 persen anak di dunia yang mengalami alergi. Di tingkat Asia, protein susu sapi merupakan makanan penyebab alergi pada anak terbesar kedua setelah telur. Masih berdasarkan data itu, di Indonesia, diperkirakan 0,5-7,5 persen anak di negeri ini mengalami alergi susu api. "Data dari klinik anak di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2012 menunjukkan bahwa 31 persen dari pasien anak alergi terhadap putih telur dan 23,8 persen alergi susu sapi," kata Budi.

    Budi menjelaskan bahwa alergi susu sapi adalah respon sistem imun yang tidak normal, berlebihan (hipersensitivitas) terhadap protein susu sapi. "Angka kejadian dan alergi pada susu sapi itu meningkat. Kita sebagai orang tua harus waspada bila anak alami alergi susu sapi. Kalau terlambat diagnosa, bisa terlambat tata laksana optimal dan bisa hambat pertumbuhan anak," katanya.

    Konferensi Pers Virtual Inovasi Baru SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx dan Festival Soya Generasi Maju

    Budi mengingatkan agar para orang tua lebih waspada bila istri atau suami memiliki alergi. Juga bila kakak atau adik anak itu mengalami alergi, karena bisa saja si adik juga akan tertular. "Anak yang punya bakat alergi itu namanya Atopi artinya 'bakat' alergi yang diturunkan oleh satu atau kedua orang tua, juga saudara kandung," kata Budi.

    Anak yang mengalami masalah alergi bisa saja mengalami ruam di pipi, atau eksim di kulit, atau ada pula ruam di kaki, juga asma, serta bersin berkepanjangan.

    Budi menjelaskan bahwa dampak alergi pada anak tidak hanya terlihat dari perspektif kesehatan, namun juga gangguan tumbuh kembang dan ekonomi seluruh anggota keluarganya.

    Dari segi kesehatan misalnya, orang alergi bisa meningkatkan penyakit degeneratif, atau hipertensi hingga sakit jantung. Anak dengan kondisi itu pun bisa alami masalah ganguan tumbuh kembang. "Anak dengan alergi mengalami keterlambatan pertumbuhan, karena berhubungan dengan jenis dan durasi pantang makanan," katanya yang menambahkan faktor psikologis dalam dampak alergi.

    Dari segi ekonomi, para orang tua dengan anggota keluarga yang memiliki alergi pun bisa merugi. "Orang tua jadi beli banyak pengobatan, belum lagi ketika ada yang tidak bisa full bekerja di kantor. Sehingga pendapatan juga ikut diasah," katanya.

    Alergi mengakibatkan peradangan atau inflamasi yang dapat menyebabkan luka pada saluran cerna. Risikonya defisiensi zat besi untuk orang dengan alergi perlu ditambah. "Jadi perlu asupan zat besi tambahan pada proses ini," kata Budi.

    Air Susu Ibu merupakan makanan yang terbaik bagi si kecil yang tidak cocok susu sapi. Budi menyarankan agar para orang tua segera berkonsultasi dengan dokter anak untuk dapat diagnosa dan penanganan yang tepat bagi anak yang memiliki alergi susu sapi. Dalam pemenuhan gizi anak yang tidak cocok susu sapi juga tidak perlu khawatir karena sesuai anjuran tenaga kesehatan atau dokter terdapat beberapa pilihan pengganti protein susu sapi seperti protein terhidrolisa ekstensif atau asam amino. "Namun, jika terdapat kendala dalam memperoleh alternatif tersebut dapat diberikan isolat protein soya sesuai dengan anjuran dan edukasi dari dokter,” kata Budi. Ia mengatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan aspek kognitif dan bahasa anak yang diberikan formula soya dibandingkan dengan anak dengan formula susu sapi pada usia 3 dan 5 tahun.

    Ahli gizi Saptawati Bardosono mengingatkan tentang pentingnya pemenuhan zat besi yang adekuat untuk mendukung tumbuh kembang anak. Berbagai makanan kaya akan zat besi itu bisa berasal dari hewan seperti daging, ati, ikan dan tiram, bisa juga berasal dari sumber makanan nabati seperti tomat, kentang, susu difortifikasi, tomat dan sayuran.

    Tati, sapaan dokter Saptawati mengatakan ada 4 dampak defisiensi zat besi. Pertama adalah prestasi akademik rendah. Lalu ada masalah gangguan permanen pada sistem motorik dan sensorik. Kekurangan zat besi pun bisa membuat anak mudah terserang penyakit. "Juga pertumbuhan fisik mereka bisa terhambat," kata Tati.

    Tati mengingatkan bahwa penting sekali vitamin C akan membantu penyerapan zat besi dengan cara mengubah Fe3+ menjadi Fe2+ sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Masyarakat pun diharapkan bisa mencari sumber vitamin C dari sayuran dan buah-buahan.

    Senior Brand Manager SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx, Anggi Morika Septie mengatakan pada peringatan Pekan Alergi Dunia itu, timnya mengadakan ‘Festival Soya Generasi Maju’ pada 23 Maret – 3 April 2021. Mereka menyempurnakan kampanye kesehatan ‘Gerakan 3K’ menjadi menjadi 3K+, yaitu: Kenali gejalanya, Konsultasikan ke dokter yang bisa dilakukan melalui telepon atau online agar Si Kecil mendapat penanganan yang tepat. Anggi meminta para orang tua tidak panik bila mengetahui anak mereka ternyata mengalami alergi terhadap susu sapi. "Kendalikan faktor penyebab tidak cocok susu sapi dengan alternatif nutrisi yang tepat, serta kembangkan dan asah potensi prestasi si kecil dengan stimulasi yang tepat agar ia tumbuh maksimal," katanya.

    Salah satu orang tua, Aktris & Seorang Bunda Natasha Rizky mengatakan ia sempat kaget ketika melihat anaknya mengalami ruam di beberapa bagian badannya. Maklum, ia dan suaminya Desta, memiliki alergi. Setelah berkonsultasi ke dokter dan mencari tahu penyebab alergi itu, Natasha pun sempat khawatir anaknya kekurangan asupan zat besi karena sang buah hati tidak cocok susu sapi. "Saya dan Desta menjadi lebih berusaha untuk ekstra tanggap terhadap gejala yang muncul, rutin berkonsultasi dengan dokter, dan mengendalikan gejala tidak cocok susu sapi anak kami Miskha dengan konsumsi nutrisi alternatif yang tepat," katanya.

    Baca: Punya Alergi? 5 Tanaman Hias Ini Dapat Membantu Menjernihkan Udara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H