Gaya Tie Dye Shibori Jepang dalam Stola dan Scarf  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Koleksi Stola, Nes yang menggabungkan teknik tie-dye asal Jepang yang disebut shibori dengan batik pada peluncurannya, 9 Desember 2014. FOTO: NES

    Koleksi Stola, Nes yang menggabungkan teknik tie-dye asal Jepang yang disebut shibori dengan batik pada peluncurannya, 9 Desember 2014. FOTO: NES

    TEMPO.CO, Jakarta - Stola atau  pashmina memiliki fungsi sebagai selendang yang fashionable maupun menghangatkan tubuh. Pelengkap penampilan ini menjadi pilihan Helen Dewi Kirana untuk membuat kreasi dalam teknik tie dye Shibori asal Jepang.

    Helen lewat stola dan scarf rancangannya bernama NES, menampilkan teknik tie-dye tidak konvensional yang lazimnya hanya dilakukan dengan mengikat kain, melainkan mengombinasikan berbagai metode, mulai dari melipat, memelintir, sampai menjahit kain sebelum diwarnai untuk menghasilkan corak yang lebih kompleks.

    Perempuan yang telah menggeluti bisnis garmen sejak 1989 ini, awalnya membuat seragam dan apparel. Helen juga memadukan teknik tie dye dengan batik.  “Saya memakai teknik shibori, dengan teknik pewarnaan batik," katanya, saat launching NES di The Resonanz, Balai Resital Kertanegara, Rabu, 10 Desember 2014.

    Dalam menemukan satu warna, ia harus melakukan beberapa layer. "Misalnya untuk menghasilkan warna merah marun, harus sekitar tiga kali proses pewarnaan untuk bisa berubah jadi marun,” kata Helen. (Baca : Jilbab Hana CHSI Populer di Tanah Abang)

    Untuk mewarnai kain, Helen menggunakan pewarna kain batik yang khusus dibeli di Pekalongan. Sedangkan untuk material kain, Helen memilih kain impor dari Italia, Jepang, dan Korea, karena lebih mudah dalam pengaplikasian teknik shibori.

    Pemilihan kain sangat berpengaruh terhadap hasil aplikasi shibori agar menghasilkan motif yang diinginkan tanpa merusak serat kain.

    “Teknik shibori cukup rumit, kalau diikat terlalu keras bisa merusak kain, namun kalau ikatannya terlalu longgar, polanya jadi tidak sempurna,” kata pemilik label B(i) batik bersama beberapa rekannya ini.

    Dalam pengerjaan stola, Helen dibantu 2 asisten dan menghasilkan 25 stola serta scarf dalam waktu tiga hari. Ia mengaku butuh istirahat beberapa hari dulu hingga akhirnya memulai pengerjaan lagi. Hal itu dikarenakan setelah proses shibori biasanya tangannya merasa sakit dan pegal. (Baca : Pesta Diskon di Hari Belanja Online Nasional)

    "Belum bisa membuat produksi masal karena semua dikerjakan dengan tangan," kata Helen. yang menyebut harga stola mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1,4 juta ini.

    Helen tetap bercita-cita ingin mengembangkan koleksi NES dengan menambah pilihan produk, meski stola NES belum bisa diproduksi secara massal.

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Mengintip Couch Surfing Makassar 
    Heboh Miss World 2014, Siapa Juaranya? 
    Tina Toon Berdagang Toko Online 
    Gaya Lipstik Oranye Ala Bintang K-Pop


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 3 selama Nataru Batal, Ini Aturan Baru yang Diterapkan

    Rencana PPKM Level 3 di seluruh tanah air selama Natal dan Tahun baru telah batal ditetapan. Gantinya, ada aturan baru pengganti pada periode Nataru.