Senin, 25 Juni 2018

Teror Pengabdi Setan di Dua Dunia, Sosok Ibu Bergeser Makna

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rumah di Pengabdi Setan. youtube.com

    Rumah di Pengabdi Setan. youtube.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Minggu ini, gara-gara  Pengabdi Setan  kata ibu mengalami pergeseran makna. Banyak orang mengernyitkan dahi dan bergidik saat kata ibu terucap. Ibu yang selama ini identik dengan perempuan penuh cinta berubah menjadi sosok mengerikan. Penuh teror. 

    Ya, semua kegilaan ini bermula ketika Joko Anwar (41) menciptakan karakter fiktif Mawarni Suwono dalam drama Pengabdi Setan (PS). 

    Mawarni diperankan Ayu Laksmi (49). Diva di era 1960-an itu jatuh sakit. Saking parahnya, ia tak bisa bangun selama bertahun-tahun. Jangankan bangun dan berjalan, berkomunikasi pun ia tak mampu.

    Untuk berbicara dengan suami dan anak-anaknya, Mawarni membunyikan lonceng. Saat mendengar lonceng mengayun, satu dari keempat anak Mawarni—Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), Bondi (Nasar Anuz), dan si bungsu Ian (Adhiyat Abdulkhadir)—masuk ke dalam kamarnya untuk mengecek keadaannya. Kadang suami Mawarni, Suwono (Bront Palarae), menengok dan menanyakan apa yang dibutuhkannya.

    Baca juga:
    13 Korban Skandal Seks Harvey Weinstein, Ada Angelina Jolie
    Bugar di Usia Matang? Triawan Munaf Push Up dan Sit Up 200 Kali

    Ibu akhirnya meninggal. Ironisnya beberapa hari kemudian, arwah ibu berbalik menyatroni anak-anaknya sendiri. Siapa sangka, drama rumahan ini mampu menakuti sejuta penonton lebih dalam 8 hari. Indikasi kesuksesan sudah tercium sejak hari penayangan pertama, Kamis 28 September 2017.

    Hari itu, Pengabdi Setan  mengumpulkan lebih dari 91 ribu penonton. Angka ini melampaui pencapaian Danur: I Can See Ghost yang mengumpulkan 87 ribu jiwa pada hari pertama.

    Joko ingat betul, orang pertama yang menyampaikan kabar bahagia itu produser Rapi Films, Sunnil Samtani. Jumat 29 September 2017 pagi, Sunnil menghubungi Joko dan mengatakan, “Bro, aduh Bro!”

    “Ada apa lagi, Bro?” jawab Joko panik.

    “Penonton Pengabdi Setan  hari pertama 91 ribu, Bro.”

    “Wah, itu bagus atau jelek, ya?”

    Sebenarnya, ini bukan kali pertama Joko mendatangkan banyak penonton. Sepuluh tahun lalu, ia menulis naskah Quickie Express (disutradarai Dimas Djayadiningrat) yang mendatangkan sejuta penonton.

    Tahun yang sama, Joko menulis Jakarta Undercover (disutradarai Lance). Film itu menyerap hampir sejuta penonton. Ini kali pertama ia bertindak sebagai penulis naskah sekaligus sutradara dan berhasil mencetak box office.

    Terkait pencapaian ini, Joko berpendapat, “Saya rasa penting bagi sineas agar filmnya ditonton sebanyak mungkin orang. Itulah tujuan film yang sebenarnya. Saat seorang sineas bikin film, artinya ia ingin mengatakan sesuatu. Saat orang ingin mengatakan sesuatu, ia ingin banyak orang mendengarnya, kan?” Tak hanya Joko yang bahagia atas pencapaian ini. Tara Basro (27) tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya saat dihubungi Bintang pada Kamis 5 Oktober 2017  lalu.

    Baca juga:Bergaya Kasual, Kahiyang Ayu Nyaris Tak Dikenali

    “Sebenarnya saya main film tidak pernah memikirkan jumlah penonton. Saya yakin tak ada yang lebih baik daripada bekerja dengan hati bahagia. Saya bekerja dengan seniman-seniman terbaik di negeri ini dan bersyukur kali ini dipercaya menjadi Rini dalam Pengabdi Setan. Ada banyak cerita di balik produksi ini,” ungkap Tara.

    Inilah kisah horor yang meneror khalayak di dua dunia. Di dunia nyata, antrean penonton membanjir di lobi bioskop. Di dunia maya, Pengabdi Setan berhasil menempatkan Mawarni Suwono di puncak trending topic Twitter, Rabu 4 Oktober lalu. Lewat tagar #IbuSudahBisa, warganet berlomba membuat meme. Lantas, apa komentar Ayu Laksmi saat warganet ramai membicarakan sepak terjang ibu?

    TABLOIDBINTANG


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Masa Berlaku Uang Lama Emisi 1999 dan 1999 Segera Dicabut

    Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk segera melakukan penukaran empat uang lama Rupiah kertas tahun emisi 1998-1999 sebelum 31 Desember 2018.