Selasa, 17 September 2019

Pola Diet yang Salah jadi Penyebab Kematian? Intip Studi Ini

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi diet dan metabolism by Boldsky

    Ilustrasi diet dan metabolism by Boldsky

    TEMPO.CO, Jakarta - Mengatur pola makan atau diet menjadi pilihan masyarakat di berbagai belahan dunia untuk hidup lebih sehat dan memiliki tubuh yang ideal. Tapi, ternyata diet tidak boleh dilakukan sembarangan. Sebab, salah pola diet bisa menyebabkan berbagai penyakit yang berujung pada kematian. 

    BacaMetode Baru Diet: Suntikkan Butiran Mikroskopis ke Arteri Perut

    Sebuah studi yang dilakukan Global Burden of Disease, yang diterbitkan di The Lancet, menyebutkan bahwa 20 persen atau satu dari lima kematian global, setara dengan kematian 11 juta orang, berhubungan dengan diet yang salah. Pola makan yang buruk berkontribusi menyebabkan sejumlah penyakit kronis di seluruh dunia, terutama penyakit kardiovaskular dan kanker. Kesimpulan itu diambil daru studi terhadap tren konsumsi 15 makanan dari 1990 hingga 2017 di 195 negara.

    "Studi ini menegaskan apa yang dipikirkan banyak orang selama beberapa tahun bahwa pola makan yang buruk menyebabkan lebih banyak kematian daripada faktor risiko lain di dunia," kata penulis studi Dr Christopher Murray, Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation, University of Washington, Amerika Serikat, seperti dilansir Science Daily pada Rabu, 3 April 2019.

    Laporan itu menyebut bahwa pada 2017 banyak kematian yang disebabkan oleh diet yang salah. Kebanyakan orang lebih memilih menghindari makanan sehat tertentu seperti biji-bijian, kacang-kacangan, dan buah dibandingkan dengan makanan yang mengandung lemak trans, minuman manis, daging merah, dan makanan olahan.

    Rata-rata, masyarakat dunia hanya makan 12 persen atau sekitar 3 gram per hari dari jumlah kacang dan biji-bijian yang direkomendasikan yaitu 21 gram per hari. Masyarakat malah mengonsumsi minuman gula sepuluh kali lipat dari jumlah yang direkomendasikan, yaitu asupan rata-rata 49 gram sedangkan jumlah yang direkomendasikan hanya 3 gram per hari.  

    "Natrium, gula, dan lemak telah menjadi fokus perdebatan kebijakan selama dua dekade terakhir. Penilaian kami menunjukkan bahwa faktor risiko diet utama adalah asupan natrium yang tinggi, atau asupan makanan sehat yang rendah, seperti biji-bijian, buah, kacang-kacangan, dan sayuran,” ujar Murray. 

    Diet buruk ini menyebabkan penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit kardiovaskular, dan diabetes. Secara keseluruhan pada tahun 2017, diperkirakan 11 juta kematian disebabkan oleh pola makan yang buruk. Diet tinggi sodium, rendah biji-bijian, dan rendah buah bersama-sama menyumbang lebih dari setengah dari semua kematian terkait diet secara global pada tahun 2017. 

    Penyebab kematian tertinggi dalam studi ini adalah penyakit kardiovaskular sebanyak 10 juta kasus, disusul 913.000 kematian akibat kanker, dan hampir 339.000 kematian akibat diabetes tipe 2. Kematian terkait dengan diet telah meningkat dari 8 juta pada 1990, sebagian besar disebabkan oleh peningkatan populasi dan populasi yang menua. 

    Penelitian ini menyimpulkan, kunci diet yang benar bukanlah mengurangi jumlah makanan, tapi konsumsilah makanan sehat lebih banyak.  

    BacaSaran Psikolog Supaya Diet Tak Gagal Terus

    SCIENCE DAILY | TIME


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.