Hari Buruh, Ini Risiko Kesehatan Jika Jam Kerja Terlalu Panjang

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita kerja terburu-buru. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita kerja terburu-buru. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari Buruh Internasional atau Mayday diperingati setiap 1 Mei. Peringatan ini berawal dari pergerakan orang Amerika di tahun 1800-an yang melakukan protes terhadap waktu kerja mereka yang begitu panjang. Ketika itu, rata-rata orang Amerika bekerja 12 jam sehari dan tujuh hari seminggu untuk dapat hidup. 

    BacaHari Buruh, Sering Lembur Bisa Menurunkan Produktivitas?

    Kini, aturan jam kerja umumnya sepanjang 40 jam per minggu atau delapan jam sehari dan lima hari dalam sepekan. Tapi, pada kenyataannya banyak orang yang bekerja lebih dari itu. Bos Alibaba Jack Ma mendukung jam kerja 12 jam per hari dan 6 hari per minggu di Cina. Jadi total jam kerja sepanjang 72 jam per minggu. Bukan cuma pekerja, para bos besar juga banyak yang memilih bekerja dalam waktu panjang. Elon Musk, CEO SpaceX dan Tesla, misalnya, bekerja rata-rata 80-90 jam per minggu.

    Bekerja dalam durasi panjang mungkin menguntungkan secara ekonomi. Tapi, menurut ahli, itu dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental karyawan.

    Sebuah penelitian yang dimuat di American Journal of Industrial Medicine menunjukkan bahwa bekerja melampaui durasi standar secara konsisten dapat merusak kesehatan. Para peneliti menemukan bahwa bekerja 61 hingga 70 jam seminggu meningkatkan risiko penyakit jantung koroner sebesar 42 persen, dan bekerja 71 hingga 80 jam meningkatkannya sebesar 63 persen.

    Sebuah studi terpisah, yang diterbitkan dalam The Lancet, menemukan bahwa orang yang bekerja lebih panjang berjam-jam memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke daripada mereka yang bekerja dengan jam kerja standar.

    Selain fisik, kesehatan mental juga akan terganggu. Psikolog klinis di New Jersey, Randy Simon, mengatakan jam kerja panjang memicu kelelahan karena perjalanan panjang, tanggung jawab luar, lingkungan kerja, perasaan penghargaan, dan kepuasan kerja. "Jika pekerjaan menghabiskan waktu, sampai Anda tidak bisa cuti, itu tidak sehat, kata dia.

    Sebuah penelitia di Inggris menemukan bahwa bekerja dalam waktu lebih lama di hari kerja meningkatkan gejala depresi, teruatama bagi wanita. Penulis laporan penelitian berhipotesis bahwa penyebabnya mungkin karena wanita yang bekerja berjam-jam mungkin merasakan tekanan norma sosial atau beban ganda apabila mereka bekerja di bidang yang didominasi pria.

    Pria memang tidak mengalami gejala depresi seberat wanita ketika punya waktu kerja panjang di hari kerja, tetapi pria disebut menunjukkan gejala depresi ketika bekerja di akhir pekan.  

    BacaMay Day 2018, Kenapa Hari Buruh Menjadi Hari Libur?

    THE CONVERSATION | WEB MD | HEALTHLINE | THE LADDERS 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.