Duduk Terlalu Lama, Awas Dead Butt Syndrome. Kenali Gejalanya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi duduk (pixabay.com)

    Ilustrasi duduk (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Namanya unik, tapi kondisi dan risikonya tidak demikian. Kini saatnya mereka yang duduk terlalu lama mulai menjaga kesehatan. Bukan rahasia lagi jika duduk terlalu lama berdampak pada kesehatan dan struktur tubuh.

    Kebanyakan orang mungkin mengalami nyeri punggung, tegang di bagian bahu, dan banyak lagi. Namun, terlepas dari itu semua, bagian tubuh yang paling menderita adalah bokong. Bokong yang selama 8 jam menjadi tumpuan bekerja akan terancam kesehatannya.

    Terlepas dari obesitas, gejala rematik, diabetes, atau penyakit lain yang disebabkan oleh terlalu lama duduk, ada satu penyakit yang tidak diketahui oleh banyak orang, yakni Gluteal Amnesia atau lebih populer dengan nama Dead Butt Syndrome. Kondisi ini dialami oleh banyak orang tanpa mereka sadari.

    Dead butt syndrome merupakan pengingat saat tubuh tidak bergerak dalam waktu yang lama, otot-otot bokong mulai lupa caranya bekerja. Duduk di depan komputer selama 8 jam atau bersantai di sofa sambil menonton serial televisi kesayangan tanpa melakukan aktivitas lain menjadi penyebab seseorang terserang penyakit bernama unik tersebut. Dead butt syndrome terjadi saat salah satu dari tiga otot bernama gluteus medius tidak berfungsi dengan baik.

    “Hal tersebut dapat terjadi jika terlalu lama memarkir bokong di atas kursi,” ujar Kristen Schuyten, ahli terapi di Michigan Medicine di Amerika Serikat. “Namun juga dapat menyerang mereka yang aktif bergerak, karena otot gluteus medius tidak cukup bergerak.”

    Ilustrasi duduk (pixabay.com)

    Gluteus medius berfungsi menjaga stabilitas tulang panggul. Gluteal amnesia atau dead butt syndrome tidak hanya dapat menyebabkan nyeri pada punggung dan pinggul saja, namun juga masalah pada lutut dan pergelangan kaki  sebab tubuh berusaha untuk menggantikan ketidakseimbangan. Sayangnya, bagi mereka yang hidup tanpa melakukan aktivitas lain selain bekerja di depan komputer selama 8 jam per hari, otot-otot panggul bisa mengalami penyusutan dan kaku.

    Hal tersebut berdampak pada glutes dalam sebuah proses yang dikenal dengan nama reciprocal inhibition. Proses tersebut menjelaskan adanya hubungan timbal balik, beri dan terima, antara otot-otot dan sendi di sekitarnya.

    “Secara umum, saat otot berkontraksi, saraf memberi sinyal pada otot lain untuk relaks,” ujar Andrew Bang, ahli tulang di Cleveland Clinic’s Wellness Institute.

    Jika glutes pada bokong tidak bekerja dengan baik, maka mau tidak mau otot-otot di sekitar, termasuk panggul dan sendi, mengompensasi hal tersebut sehingga menjadi tegang karena adanya tekanan dari otot yang seharusnya relaks.

    Bang menambahkan, “Hal tersebut juga dapat menyerang mereka yang aktif bergerak, misalnya pelari maraton, pendaki, dan lainnya. Mereka yang kerap bertumpu pada otot keting akan mengalami hal serupa karena terjadi ketidakseimbangan otot.”

    Bagaimana cara menghindari kondisi tersebut? Lakukan peregangan dan olahraga saat beristirahat. Atau jika berasalah jadwal kerja sangat padat dan tenggat waktu tidak membiarkan Anda bernapas sedikit pun, mungkin ini saatnya berpikir kembali apakah semuanya setimpal dengan kesehatan di kemudian hari.

    “Saat olahraga, jangan lupa melakukan squat dan berjalan. Anda juga dapat menggunakan bola untuk olahraga di waktu senggang. Luangkan beberapa menit untuk bangun dari kursi. Apapun yang Anda lakukan, jangan biarkan tubuh melakukan pola yang sama berulang kali,” tutur Bang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.