Pentingnya Belajar Coding Untuk Rakyat, Intip Kisah Pria Ini

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Matthew Triska (tengah), membantu temannya Alex Fester, membangun sebuah kode menggunakan iPad di Toko Apple, Stanford, California (11/12). Apple berpartisipasi dalam ilmu komputer bersama dengan code.org untuk mengajar anak-anak dasar-dasar coding. AP/Marcio Jose Sanchez

    Matthew Triska (tengah), membantu temannya Alex Fester, membangun sebuah kode menggunakan iPad di Toko Apple, Stanford, California (11/12). Apple berpartisipasi dalam ilmu komputer bersama dengan code.org untuk mengajar anak-anak dasar-dasar coding. AP/Marcio Jose Sanchez

    TEMPO.CO, Jakarta - Majunya ilmu teknologi membuat semakin banyak anak yang belajar coding di Indonesia. Achmad Fauzi, 23 tahun, tak kerasan akan pendidikan ala militer di sebuah sekolah pendidikan calon penerbang. Ia ingin belajar bidang komputer, meski itu harus memupus harapan ibunya untuk melihat dia menjadi seorang pilot. Ia mengaku sudah lama menggemari game dan mengikuti perkembangan teknologi.

    Achmad Fauzi lantas masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 10 Jakarta, yang kurikulumnya berbasis teknologi informasi (TI). Ia mengambil jurusan rekayasa perangkat lunak. Selepas SMK, pada 2014, ia memilih tidak kuliah dan bekerja di sebuah software house. Di sana, ia sempat mengalami depresi. Pasalnya, sebagai lulusan SMK, keahliannya di bidang teknologi informasi kurang diakui dibanding jebolan universitas. Padahal ia sempat membuat sebuah aplikasi berupa employee portal untuk bagian personalia kantornya itu.

    Achmad Fauzi lantas banting setir menjadi sales promotion boy di sebuah perusahaan retail. Namun, dua tahun kemudian, pekerjaan itu ditinggalkan demi impiannya bekerja di bidang TI. "Waktu itu aku bingung mengembangkan kemampuanku karena pembelajaran daring yang ada dalam bahasa Inggris semua, sementara kemampuan bahasa Inggris saya kurang," ucapnya.

    Akhirnya ia bertemu dengan Dicoding, yang menggunakan bahasa Indonesia untuk materi pembelajarannya. Sekarang Achmad Fauzi bekerja di Telkom Sigma sebagai software engineer dan mengepalai sebuah tim yang semuanya lulusan S-1. Ia mengaku mendapat pekerjaan ini karena ditawari pihak Telkom setelah melihat kemampuannya. "Kami di sini saling membagi ilmu saja. Kerja tim," kata Achmad Fauzi.

    Nadiem Makarim, kini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ketika masih menjabat CEO Gojek, pernah mengatakan bahwa ada empat kemampuan yang bersifat wajib dalam kurikulum nasional. Empat hal itu adalah bahasa Inggris, statistik, psikologi, dan bahasa pemrograman atau coding.

    Video pidato Nadiem dalam sebuah acara dua tahun lalu tersebut viral di media sosial sejak ia diumumkan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Presiden Joko Widodo. Nadiem menyatakan bahasa pemrograman wajib diajarkan karena dunia nyata dikendalikan oleh kode-kode virtual, sehingga sumber daya manusia Indonesia harus menguasai kemampuan ini sejak sekolah. Bagi dia, Indonesia dengan potensi ekonomi digitalnya harus mempersiapkan diri berkompetisi secara global.

    ANWAR SISWADI | AMINUDDIN A.S | KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.