Sebab Masih Banyak Anak Alami Gizi Buruk dan Stunting

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi stunting atau gizi buruk. Shutterstock

    Ilustrasi stunting atau gizi buruk. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) oleh Kementerian Kesehatan menyebut angka stunting Indonesia pada 2019 sebesar 27,67 persen. Bila dibandingkan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2018, angka ini berhasil ditekan 3,1 persen dari 30,8 persen dalam setahun terakhir.

    Meskipun terjadi penurunan, angka stunting Indonesia saat ini dinilai masih besar. Ketua IDI Kabupaten Cirebon, dr. Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein SpPD MM., menyampaikan di Cirebon saja angka stunting masih di sekitar 9-10 persen. Menurutnya, hal ini disebabkan beberapa faktor.

    Pertama, kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan gizi sebelum dan pada masa kehamilan. Kedua, kurangnya akses masyarakat ke makanan bergizi.

    "Hal ini karena makanan bergizi di Indonesia mahal," katanya.

    Lalu, terbatasnya layanan kesehatan, termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu pada masa kehamilan), pascamelahirkan, dan pembelajaran dini yang berkualitas. Terakhir, kurangnya akses air bersih dan sanitasi.

    "Stunting itu masalah bersama. Kesiapan ibu dalam memahami pentingnya gizi baik untuk diri sendiri dan keluarga, pola asuh, dan sanitasi sangat penting dalam mencegah stunting," ujarnya.

    Edukasi dasar terkait gizi pun menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini. Selain itu, berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait perlu dilakukan guna membantu terbentuknya generasi unggul di masa mendatang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.