Virus Corona Berasal dari Ular Hingga Kelelawar, Yakin?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ular purba berkaki Najash snake.dalam ilustrasi yang dibuat seniman. (Ral O. Gmez, Universidad de Buenos Aires, Buenos Aires, Argentina)

    Ular purba berkaki Najash snake.dalam ilustrasi yang dibuat seniman. (Ral O. Gmez, Universidad de Buenos Aires, Buenos Aires, Argentina)

    TEMPO.CO, Jakarta - Wabah virus corona yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, kini dilaporkan sudah menjangkiti 1.300 orang dan 41 orang meninggal dunia karenanya. Parahnya, virus yang disebut mirip Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) ini telah menyebar ke berbagai negara di sekitarnya, seperti Korea Selatan, Thailand, Singapura, hingga Amerika Serikat.

    Banyak orang pun berpendapat mengenai penyebab virus corona yang telah menyebar sedemikian luasnya. Salah satunya, penyebab virus Corona yang diduga berasal dari hewan liar, seperti ular, reptil, hingga kelelawar. Benarkah demikian?

    Virus corona atau Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar dari virus yang menyebabkan penyakit, mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Pada 7 Januari 2020, seperti yang dikutip dari laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah Tiongkok mengonfirmasi adanya jenis virus Corona baru yang mewabah sejak akhir Desember lalu.

    Virus tersebut merupakan jenis baru yang tidak mirip dengan virus Corona lainnya. Virus ini sementara dinamakan novel coronavirus 2019 (2019-nCoV). Virus corona adalah virus zoonosis, yakni virus yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Ini berarti pasien pertama yang terinfeksi virus corona bisa jadi tertular virus yang berasal dari hewan.

    Sebenarnya, virus corona merupakan keluarga besar dari virus yang umum ditemukan pada sejumlah spesies hewan, seperti kucing, anjing, babi, sapi, kuda, unta, burung, hewan pengerat, kelelawar, kelinci, musang, ular, reptil, kelelawar, dan hewan liar lainnya, yang dapat menginfeksi manusia.

    Namun, jarang sekali virus corona yang berasal dari hewan dapat menginfeksi manusia kemudian menyebar di antara manusia, layaknya MERS dan SARS.

    Meski jarang, tetapi ada sebuah hasil investigasi menunjukkan bahwa SARS-CoV ditularkan dari musang ke manusia, sementara MERS-CoV ditularkan dari unta dromedaris ke manusia. Ada pula beberapa CoV lain yang terdapat pada hewan, tetapi belum menginfeksi manusia.

    Ketika virus corona menginfeksi manusia maka protein dalam virus tersebut mengenali dan mengikat reseptor pada sel inang sehingga membuat virus memasuki sel dan mengubah protein. Hal inilah yang mungkin memengaruhi kemampuan virus corona untuk menginfeksi dan berkembang biak di dalam tubuh manusia. Kemudian, dari manusia tersebut akan menularkan ke manusia lainnya.

    Penyebaran munculnya Novel Coronavirus di Wuhan, Tiongkok diduga berasal dari hewan liar, seperti ular dan kelelawar. Sejumlah laporan menyatakan bahwa sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit merupakan penjual dan pembeli di pasar grosir makanan laut lokal yang juga menjual daging olahan dan hewan langsung santap, seperti unggas, keledai, domba, babi, unta, rubah, musang, tikus, landak, reptil, burung, kodok, kelinci, ular, hingga kelelawar di wilayah Wuhan, Tiongkok.

    Mengingat belum ada laporan lebih lanjut yang menjelaskan virus Corona dapat menginfeksi sejumlah hewan, maka masuk akal apabila muncul dugaan Novel Coronavirus berasal dari hewan-hewan yang dijual di pasar makanan laut tersebut. Dugaan penyebab ini didukung oleh sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Virology. Temuan para peneliti mengungkapkan bahwa Novel Coronavirus merupakan rekombinasi dari dua jenis Coronavirus, yaitu bat Coronavirus dan satu lagi Coronavirus yang belum dikenali.

    Para peneliti menggunakan analisis kode protein pada Novel Coronavirus dan membandingkannya dengan kode protein dari Coronavirus pada sejumlah hewan berbeda, seperti burung, ular, landak, kelelawar, serta manusia. Hasilnya pun mengejutkan, mereka menemukan kode protein Novel Coronavirus paling mirip dengan yang terdapat pada ular.

    Akan tetapi, bagaimana virus dapat beradaptasi dengan sel inang hewan berdarah panas dan berdarah dingin inilah yang masih menjadi pertanyaan. Maka dari itu, dugaan penyebab ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Para peneliti membutuhkan verifikasi asal virus melalui percobaan laboratorium, termasuk mencari urutan genetik Novel Coronavirus pada ular.

    Kendati demikian, sejak virus Corona menjadi wabah, pasar makanan laut di Wuhan, Tiongkok, telah ditutup dan didesinfeksi sehingga sulit bagi peneliti untuk melakukan investigasi lanjutan terhadap sumber virus baru melalui hewan.

    Akibat kemunculan virus baru yang menyebabkan wabah Novel Coronavirus ini, pasar makanan laut di Wuhan, Tiongkok, ditutup guna mencegah penyebaran virus. Selain itu, pemerintah Tiongkok juga melakukan desinfeksi, pemantauan, serta pencegahan sarana publik, seperti stasiun, terminal bus, hingga bandara.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.