Alasan Indro Warkop Mau Jadi Aktivis Kalahkan Kanker

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Indro Warkop dan kedua anaknya saat pemakaman istrinya Nita Octobijanthy di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Istri Indro Warkop, Nita Octobijanthy meninggal dunia pada 9 Oktober 2018 setelah berjuang melawan sakit kanker paru paru. TEMPO/Nurdiansah

    Ekspresi Indro Warkop dan kedua anaknya saat pemakaman istrinya Nita Octobijanthy di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Istri Indro Warkop, Nita Octobijanthy meninggal dunia pada 9 Oktober 2018 setelah berjuang melawan sakit kanker paru paru. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru pada Selasa, 11 Februari 2020, memperkenalkan duta kanker paru. Salah satunya aktor Indro Warkop.

    Bukan tanpa alasan personel Warkop ini didaulat menjadi duta. Hidupnya yang dikelilingi orang-orang terdekat yang pergi karena kanker memberikan banyak pengaruh.

    "Hidup saya dikelilingi riwayat orang-orang dengan kanker. Kasino kanker otak, istri Mas Dono kanker payudara, Dono kena kanker paru. Mertua kanker kelenjar liur, sampai di tahun 2018 istri saya meninggal karena kanker paru," kenangnya.

    Laki-laki kelahiran 8 Mei 1958 ini mengatakan saat itu rasanya sudah sampai memuncak, orang terdekat yang teramat ia cintai mengalami juga. Rasanya saat itu seperti kiamat bagi Indro dan keluarga.

    "Tapi enggak cukup kalau hanya menangis, akhirnya kami kerjasama bikin tim kecil dengan anak nomor dua jadi pimpinan buat fokus pengobatan istri saya," ucapnya saat ditemui di acara Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker di Jakarta, Selasa, 11 Februari 2020.

    Perasaan kehilangan membuat Indro mendarmakan hidupnya sebagai aktivis kalahkan kanker yang banyak bicara soal pencegahan dan kampanye mengenai kanker.

    "Saya kepingin sekali berbuat dengan kampanye, kalau kanker bukan ditakuti tapi dikenali sebab tidak menutup kemungkinan bisa benar-benar sembuh," jelasnya.

    Bagi Indro, kebodohan terbesar hidupnya ialah pernah merasakan fatamorgana kenikmatan merokok. Bukan cuma merokok seperti orang kebanyakan tapi sudah sampai tester rokok.

    "Apa ya istilahnya, heavy smoker bisa sampai empat bungkus sehari. Sampai akhirnya lihat anak pegang rokok, saya mulai coba berhenti sekitar Maret 1998," ucapnya.

    Meski sekilas cepat, Indro bisa dikatakan sangat bergantung pada rokok. Ayah tiga anak ini mengaku sampai "gila" dan sakau selama dua minggu dan susah makan dan minum sampai tiga bulan selama prosesnya.

    Tujuh tahun berhenti merokok, Indro didiagnosis kena jantung koroner dan merasa pilihannya berhenti merokok adalah keputusan yang tepat.

    "Saat ini ingin berbagi cerita, bukan memaksa orang berhenti merokok, sebab saya sadar sudah berapa banyak orang yang saya papari asap rokok," ujar Indro.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.