Pahami Gerak Gerik Anak yang Berpotensi Tinggi Lakukan Pembunuhan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekerasan. shutterstock.com

    Ilustrasi kekerasan. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus pembunuhan anak yang dilakukan oleh remaja berusia 15 tahun kepada balita berumur 6 tahun di Jakarta Pusat pada Kamis, 5 Maret 2020, menjadi pelajaran bagi orang tua untuk lebih mengawasi anak. Kejadian seperti ini bisa saja dicegah sehingga anak tidak melakukan tindakan yang bertolak belakang dengan norma.

    Ada beberapa tanda yang bisa diwaspadai orang tua dari gerak-gerik anak yang mengarah kepada aksi pembunuhan di masa datang. Sebagai bentuk edukasi, psikolog anak dan keluarga dari Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani, pun menyebutkan empat perilaku yang wajib dicurigai sehingga bisa segera mendapat pertolongan.

    Pertama adalah anak melakukan kekerasan terhadap orang lain dan binatang. Kekerasan yang dilakukan bukan hanya mengintimidasi, sering bertengkar dan menyakiti orang lain atau hewan, tapi juga senang menggunakan senjata tajam dalam melampiaskan kemarahan.

    “Bisa pakai batu bata, botol kaca pecah, pisau pembuka surat, dan sebagainya,” katanya saat dihubungi Tempo.co pada Selasa, 10 Maret 2020.

    Ciri lain yang patut diwaspadai adalah senang merusak barang. Wanita yang akrab disapa Nina itu mengatakan bahwa anak yang berpotensi membunuh akan sering melampiaskan kemarahan, bukan hanya pada orang dan binatang saja, tapi juga kepada barang.

    “Misalnya, secara sengaja merusak atau membakar benda miliknya atau mencoba membuat kerusakan serius pada tempat tinggal seseorang, itu harus dicurigai,” tegasnya.

    Selain itu, ada pula sikap anak yang suka melakukan pencurian atau ketidakjujuran. Contohnya, anak mencoba masuk ke rumah orang lain tanpa ijin, berbohong demi mendapatkan benda milik orang lain, hingga melakukan pencurian barang.

    “Anak yang suka mengelabui orang tuanya dengan menginap di rumah teman tanpa ijin, sering membolos dan melanggar aturan sekolah, wajib menjadi perhatian,” ungkapnya.

    Apabila hal-hal ini ditemukan pada anak, Nina meminta agar orang tua kembali belajar melakukan pengasuhan yang lebih hangat dan lebih menghargai satu sama lain.

    “Interaksi dalam keluarga yang lebih akrab dan hangat dapat mengurangi kecenderungan problem perilaku jahat kepada orang lain,” ujarnya.

    Jika hal tersebut tak juga mengubah perilaku anak, Nina lantas mengimbau agar orang tua mengajak anak berkonsultasi dengan psikolog klinis anak dan remaja agar mendapat penanganan lebih intensif.

    “Ini sangat membantu agar perubahan pada anak bisa bertahan lebih lama dan ke arah yang lebih positif,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.