#IndonesiaTerserah jadi Viral, Ini Tanggapan Psikolog

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • The Rap Up mengabarkan situasi terkini soal pelanggaran PSBB dalam video berjudul Terserah. Instagram/@therapup

    The Rap Up mengabarkan situasi terkini soal pelanggaran PSBB dalam video berjudul Terserah. Instagram/@therapup

    TEMPO.CO, Jakarta - Tagar #IndonesiaTerserah tengah menjadi viral di berbagai media sosial. Ini merupakan respons masyarakat terhadap kebijakan pemerintah Indonesia akan pandemi Covid-19. Tagar ini juga diserukan atas kekecewaan dari perilaku orang Indonesia yang masih banyak melanggar aturan hingga membiarkan penyebaran Covid-19 lebih banyak lagi.

    Menanggapi apa yang tengah viral, psikolog klinis di Tiga Generasi Alfath Megawati mengatakan bahwa memang ini menimbulkan suasana yang dilematis dan membingungkan di antara masyarakat. “Di satu sisi disuruh PSBB, tapi tetap mobilisasi kan,” katanya saat dihubungi Tempo.co pada 18 Mei 2020.

    Alhasil, masyarakat tentu bereaksi dengan apa yang terjadi. “Sebagai seorang individu di masyarakat, wajar sekali jika kita bersuara dan menyatakan pendapat. Seperti saat ini, kita menyerukan #IndonesiaTerserah itu sebagai ungkapan kekecewaan,” katanya.

    Meski demikian, wanita yang akrab disapa Ega itu berharap bahwa apa yang digaungkan tidak berlebihan. Sebab dalam suatu kegiatan, setiap orang akan dihadapkan dengan apa yang bisa dan tidak mereka kontrol. Contoh yang tidak bisa dikontrol itu adalah perubahan kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat.

    “Menyampaikan aspirasi tetap diperbolehkan asal tidak berlebihan. Karena wewenang tetap dipegang oleh pemerintah dan masing-masing individu. Apabila mereka tidak berubah dan kita terus mengimbangi dengan marah-marah, tenaga justru habis untuk nantinya memperhatikan diri sendiri,” katanya.

    Sebaliknya sebagai saran, masyarakat pun diharapkan lebih fokus kepada diri sendiri. Karena hal ini bisa kita kendalikan. “Dengan fokus pada apa yang kita bisa lakukan untuk menjaga diri, misalnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat, maka menanggapi suasana pandemi yang dialami sekarang ini akan menjadi lebih ringan,” katanya.

    Ega mengingatkan bahwa aksi sekecil apapun tetap berpengaruh untuk kehidupan bersama. “Saat kita fokus pada diri sendiri, kita menularkan kebiasaan baik pada orang lain. Contoh nyata ini lebih bisa mempengaruhi kebiasaan dan pada akhirnya memberikan dampak positif karena kita saling bergandeng tangan untuk menyelesaikan masalah ini,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.