Sebab Vaksin Virus Corona Masih Sulit Dibuat menurut Pakar

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah kasus COVID-19 di Indonesia terus bertambah. Guru besar Biologi Universitas Negeri Malang, Profesor Mohamad Amin, menilai mutasi virus corona penyebab COVID-19 yang begitu cepat membuat pandemi ini tidak bisa diputus dan menyulitkan pembuatan vaksin serta obatnya.

    "Berdasarkan tinjauan ilmu virologi, penyebaran pandemi COVID-19 ini tidak bisa diputus karena mutasi virus yang sangat cepat sehingga dapat menimbulkan varian-varian baru virus," ujar Amin.

    Dia menjelaskan dari tinjauan ini juga tampaknya akan sulit untuk membuat vaksin maupun obat antivirus mengingat virus ini selalu bermutasi melahirkan varian-varian baru dan akan menyulitkan peneliti maupun ahli kesehatan untuk membuat desain obatnya.

    "Desain obat harus fix atau permanen sebelum dibuat, ketika ada sedikit perubahan maka harus dilakukan desain yang baru," katanya.

    Dengan demikian, cara terbaik untuk menjalani kehidupan new normal jika vaksin sulit ditemukan adalah melakukan pencegahan agar tidak terlalu banyak orang masuk rumah sakit hingga melebihi kapasitas akibat COVID-19.

    "Dengan demikian perlu menjalankan langkah-langkah preventif agar masyarakat yang masih sehat tidak terinfeksi COVID-19. Selain itu, langkah lain yang perlu dilakukan adalah membuat orang sakit atau positif COVID-19 segera sembuh," ujar Amin.

    Dalam paparannya, dia menyampaikan kehidupan New Normal mendorong masyarakat harus beralih dengan mengubah pola pikir dan kebiasaan karena tidak perlu berharap hilangnya virus corona dengan memutus mata rantai penularan 100 persen. Masyarakat harus bisa menerima bahwa mereka tidak bisa lagi hidup normal seperti semula pascapandemi COVID-19.

    "Bagaimana cara cerdas menata kehidupan Normal Baru atau New Normal adalah kebiasaan-kebiasaan positif baru, seperti kerja dari rumah, menggunakan masker, dan menjaga jarak yang sudah kita lakukan untuk bertahan selama pandemi COVID-19, jangan ditinggalkan," jelas Amin.

    Selain itu, guru besar biologi itu juga menambahkan kita perlu menjadi masyarakat yang cerdas dengan memiliki wawasan ilmu dan pengetahuan, percaya diri atas ilmu yang diperoleh dan selalu mencari serta mengeksplorasi wawasan baru agar dapat berinovasi dan lebih produktif. Meski demikian, program kebijakan dalam menangani dan mencegah meluasnya penyebaran COVID-19, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menjaga jarak sosial harus tetap dilanjutkan.

    "Target saat ini bukan memberantas virus melainkan menekan jumlah orang yang terinfeksi bersamaan serendah mungkin. Kalau nanti semakin banyak yang terinfeksi, maka pelayanan kesehatan di Indonesia akan sangat kewalahan, dan kalau yang terinfeksi COVID-19 tidak segera mendapat pelayanan kesehatan maka proses penyembuhannya tidak cepat," ujar Amin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.