Waspadai Adaptasi Olahraga Sebelum dan Sesudah Lebaran

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi seorang wanita olahraga di rumah. Unsplash.com/Jonathan Borba

    Ilustrasi seorang wanita olahraga di rumah. Unsplash.com/Jonathan Borba

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Muslim di dunia. Salah satu sebabnya adalah hari kemenangan ini disambut dengan makan besar dari sederet menu khas seperti opor ayam dan ketupat.

    Adapun Lebaran juga menjadi titik saat masyarakat menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Pada masa ini, tak sedikit orang yang terburu-buru menjalankan aktivitas seperti sedia kala, seperti olahraga.

    Founder & Chief Operating Officer aplikasi penyedia olahraga dan makanan sehat DOOgether, Helmy Rianda mengatakan bahwa hal tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. “Paling sederhananya ya passed out atau pingsan,” katanya dalam Nutritalk di live Instagram bersama @nutrifood pada Rabu, 20 Mei 2020.

    Helmy menjelaskan, masalah kesehatan muncul akibat kebiasaan yang berubah. Dalam artian, puasa selama satu bulan telah mengubah jenis olahraga ke intensitas rendah. “Kalau kita langsung kembali ke high intensity karena sudah tidak puasa, tubuh akan kaget karena terlalu berat. Ini yang membuat masalah pada tubuh,” katanya.

    Untuk itu, Helmy pun mengimbau agar setiap orang berolahraga sesuai dengan kemampuan dan tidak terlalu memaksakan. “Kuncinya adalah listen to your body. Jangan langsung tembak high intensity dan jor-joran. Tapi kira-kita mana yang kuat, langkah demi langkah, baru kembali seperti normal,” katanya.

    Bagi Helmy pribadi, cara mengecek apabila dirinya sanggup atau tidak menjalankan suatu olahraga adalah dengan didahului pemanasan lalu melompat 50 kali. “Adaptasi dulu. Kalau saya 50 kali lompat, sanggup atau tidak. Ketika kuat berarti bisa lanjut high intensity, kalau ngos-ngosan ya jangan,” katanya.

    Hal tersebut juga berlaku dari jumlah olahraga yang dijalani per minggu. Misalnya selama puasa hanya olahraga satu kali seminggu dan biasanya tiga kali seminggu, maka coba pasca puasa coba dua kali dahulu. “Coba lihat, sanggup enggak di dua kali olahraga per minggu. Kalau belum sanggup, santai satu, nanti dua, baru normal,” katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA | INSTAGRAM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.